Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Tengah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Maret 2013

Asal Usul Pohon Sagu dan Palem
Di Posting Oleh : DONLOAD APLIKASI (MUJI)
Kategori : Cerita Rakyat Folk Tales Legenda Sulawesi Tengah



Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah


Pohon sagu dan palem merupakan jenis tanaman dataran rendah tropik yang banyak ditemukan tumbuh liar di kawasan hutan Dolo, Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, asal usul kedua jenis pohon ini berasal dari tubuh manusia atau penjelmaan manusia. Hal ini dikisahkan dalam sebuah legenda yang hingga kini masih dipercayai kebenarannya oleh masyarakat setempat. Bagaimana manusia dapat menjelma menjadi pohon sagu dan palem? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Usul Pohon Sagu dan Palem berikut ini!


Pohon Sagu (latin : Metroxylon sago Rottb.)

Alkisah, di daerah Donggala, Sulawesi Tengah, hidup sepasang suami-istri bersama seorang anak lelakinya. Mereka tinggal di sebuah rumah tua yang terletak di pinggir hutan Dolo. Hidup mereka sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mencari buah-buahan dan hasil hutan lainnya yang tersedia di sekitar mereka.

Semakin lama sang Suami pun merasa bosan hidup dengan keadaan seperti itu. Akhirnya, timbullah niatnya ingin membuka lahan perkebunan yang akan ditanami dengan berbagai jenis tanaman palawija dan sayur-sayuran. Suatu hari, ia pun menyampaikan niat baiknya tersebut kepada istrinya.

“Dik! Bagaimana kalau kita berkebun saja? Aku sudah bosan hidup seperti ini terus,” ungkap sang Suami.

Alangkah senang hati sang Istri mendengar rencana suaminya. Ia merasa bahwa suaminya akan berubah untuk tidak bermalas-malasan bekerja.

“Bang, kita mau berkebun di mana? Bukankah kita tidak mempunyai lahan untuk berkebun?” tanya sang Istri.

“Tenang, Dik! Besok Abang akan membuka hutan untuk dijadikan lahan perkebunan,” jawab sang Suami.

“Baiklah kalau begitu, aku setuju,” kata sang Istri.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sang Suami berangkat ke hutan Dolo. Setelah beberapa lama menyusuri hutan, ia pun menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lahan perkebunan. Sementara itu, sang Istri bersama anaknya menunggu di rumah sambil menyiangi rerumputan yang tumbuh di pekarangan rumah agar ular tidak mengganggu mereka.

Menjelang sore hari, sang Suami pulang dari hutan sambil membawa buah-buahan untuk persiapan makan malam mereka. Istrinya pun menyambutnya dengan penuh harapan. Usai menyuguhkan minuman, sang Istri bertanya kepada suaminya.

“Bang, bagaimana hasilnya? Apakah Abang sudah menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lahan perkebunan?”

“Iya, Dik! Abang sudah menemukan sebidang tanah yang subur,” jawab sang Suami.

Mendengar jawaban suaminya, sang Istri merasa gembira. Ia berharap dengan adanya pekerjaan baru tersebut kehidupan keluarga mereka akan menjadi lebih baik suatu hari kelak.

“O iya, Bang! Kalau Adik boleh tahu, di mana letak lahan itu?” sang Istri kembali bertanya.

“Letaknya tidak jauh dari rumah kita,” jawab sang Suami.

“Syukurlah kalau begitu, Bang! Kita tidak perlu berjalan jauh untuk mencapainya. Lalu, kapan Abang akan memulai membuka lahan?” tanya sang Istri.

“Kalau tidak ada aral melintang, besok Abang akan memulainya,” jawab sang Suami dengan penuh keyakinan.

Beberapa saat kemudian, hari sudah mulai gelap. Sang Istri pun menyiapkan makan malam seadanya. Usai makan malam, keluarga miskin tersebut beristirahat setelah hampir seharian bekerja.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sang Suami berangkat ke hutan sambil membawa parang dan cangkul. Sesampainya di tempat yang akan dijadikan lahan perkebunan, tiba-tiba muncul sifat malasnya. Ia bukannya membabat hutan, melainkan duduk termenung sambil memerhatikan pepohanan yang tumbuh besar dan hijau di hadapannya. Sementara itu, istri dan anaknya sedang menunggu di rumah dengan penuh harapan. Sang Istri mengharapkan agar suaminya segera membuka lahan perkebunan.

“Anakku! Jika Ayahmu telah selesai membuka lahan perkebunan, kita bisa membantunya menanam sayur-sayuran dan umbi-umbian di kebun,” ujar sang Ibu kepada anaknya.

“Bolehkah aku ikut membantu, Ibu?” tanya anaknya.

“Tentu, Anakku! Ayahmu pasti sangat senang jika kamu juga ikut membantunya,” jawab sang Ibu sambil tersenyum.

Menjelang sore hari, sang Suami pulang dari hutan. Ia pun disambut oleh istrinya dengan suguhan air minum. Setelah suaminya selesai minum dan rasa capeknya hilang, sang Istri pun kembali menanyakan tentang hasil pekerjaannya hari itu.

“Bagaimana hasilnya hari ini, Bang?”

“Belum selesai, Dik!” jawab sang Suami.

Keesokan harinya, sang Suami kembali ke hutan. Setiba di sana, ia pun kembali hanya duduk termenung. Begitulah pekerjaannya setiap hari. Begitupula jika ditanyai oleh istrinya tentang hasil pekerjaannya, ia selalu menjawab “belum selesai”.

Oleh karena penasaran ingin melihat hasil pekerjaan suaminya, suatu siang sang Istri menyusulnya ke hutan tempatnya bekerja. Sesampainya di tempat itu, ia mendapati suaminya duduk termenung sambil bersandar di bawah sebuah pohon. Alangkah kecewanya sang Istri, karena lahan perkebunan yang diharapkannya tidak terwujud.

“Bang! Mana lahan perkebunan itu?” tanya sang Istri.

Mendengar pertanyaan istrinya itu, sang Suami bukannya menjawabnya. Akan tetapi, ia segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian langsung pulang dengan perasaan marah. Rupanya, ia merasa tersinggung karena istrinya menyusul ke hutan. Mengetahui suaminya marah, sang Istri pun mengikutinya dari belakang.

Sesampai di rumah, kemarahan sang Suami semakin memuncak. Ia melampiaskan kemarahannya dengan membanting barang-barang yang ada di dalam rumahnya. Sang Istri yang tidak menerima kelakuan suaminya itu langsung berlari menuju ke hutan sambil menangis. Sesampainya di tengah hutan, ia langsung menceburkan diri ke dalam sebuah telaga.

Sementara itu, sang Suami yang baru menyadari akibat dari kelakuannya segera mengajak anaknya untuk menyusul istrinya ke tengah hutan.

“Ayo Anakku, kita susul Ibumu ke hutan!” ajak sang Ayah sambil menarik tangan anaknya.

“Baik, Ayah!” jawab anaknya.

Sesampainya di tengah hutan, tidak jauh dari hadapan mereka terlihatlah sang Istri berada di tengah telaga. Tubuhnya sedikit demi sedikit menjelma menjadi pohon sagu. Melihat peristiwa itu, ayah dan anak itu pun segera berlari mendekati telaga.

“Maafkan aku, Dik! Kembalilah!” teriak sang Suami.

“Ibu..., Ibu.... Aku ikut!” teriak anaknya sambil menangis.

“Kamu di sini saja, Anakku! Tidak usah ikut ibumu, sebentar lagi dia kembali,” bujuk sang Ayah.

“Tidak Ayah! Aku mau ikut Ibu,” kata anaknya meronta-ronta.

Sang Ayah terus berusaha membujuk anaknya agar berhenti menangis. Namun, sang Anak tetap menangis dan bersikeras ingin ikut ibunya. Saat sang Ayah lengah, si anak pun berlari dan terjun masuk ke dalam telaga. Maka seketika itu pula, ia menjelma menjadi sebatang pohon sagu seperti ibunya.

Setelah melihat peristiwa itu, barulah sang Suami sadar dan menyesali semua perbuatannya.

“Maafkan aku, Istriku! Maafkan aku, Anakku! Aku sangat menyesal atas semua perbuatanku kepada kalian,” ucapnya sambil menangis berderai air mata.

Berulang kali sang Suami meminta maaf kepada istri maupun kepada anaknya. Namun, apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal kemudian tiadalah guna. Istri dan anaknya telah menjelma menjadi pohon sagu. Ia pun tidak ingin hidup sendirian tanpa istri dan anaknya. Akhirnya, ia pun ikut terjun ke dalam telaga itu. Ketika itu pula ia pun menjelma menjadi sebatang pohon palem.



=======o0o======



Demikian cerita Asal Usul Pohon Sagu dan Palem dari daerah Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu akibat buruk sifat malas bekerja dan sifat kasar langgar.

Pertama, akibat buruk dari sifat malas bekerja. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku sang Suami yang suka menunda-nunda melakukan pekerjaannya. Akibatnya, dia dan keluarganya senantiasa hidup miskin. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
berkayuh berat pengayuh,berladang berat parangbekerja mengeluh,makan berpeluh

Kedua, akibat buruk sifat kasar langgar. Sifat ini tercermin pula pada sikap dan perilaku sang Suami yang berlaku kasar terhadap istrinya. Akibat perbuatannya tersebut, istri dan anaknya bahkan dirinya sendiri menjelma menjadi pohon sagu dan palem. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
apa tanda kasar langgar,lidah tajam mulut pun kasarbinasa diri kasar langgar,binasa badan kurang ajar

(Samsuni/sas/104/12-08)



Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Muhammad Jaruki, Atisah.2001. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah. Jakarta: Grasindo.
Anonim. “Sulawesi Tengah,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Tengah, dikases tanggal 04 Desember 2008).
Tenas Effendy. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bapedda Tingkat I Riau.
--------. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
http://melayuonline.com/literature/?a=VFBYIC9zVEkvUXZ5bEpwRnNx=

Senin, 22 Desember 2008

Legenda Batu Bagga
Di Posting Oleh : DONLOAD APLIKASI (MUJI)
Kategori : Cerita Rakyat Folk Tales Legenda Sulawesi Tengah

Tolitoli adalah salah satu nama kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Di kabupaten yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas ini terdapat sebuah batu yang melegenda di kalangan masyarakat setempat. Konon, batu tersebut merupakan jelmaan sebuah perahu bagga (perahu layar), sehingga disebut batu bagga. Peristiwa apakah yang telah menyebabkan perahu bagga itu menjelma menjadi batu? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Batu Bagga berikut ini.

* * *

Konon, di sebuah kampung di daerah pesisir Sulawesi Tengah, Indonesia, hiduplah seorang duda bernama Intobu. Ia tinggal di sebuah gubuk bersama seorang putranya yang bernama Impalak. Mereka hidup sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka pergi ke laut untuk mencari ikan.

Pada suatu malam, ketika Intobu bersama anaknya hendak mencari ikan di laut, tiba-tiba angin bertiup kencang dan hujan deras. Meskipun demikian, dua orang bapak dan anak itu tetap memutuskan untuk melaut. Dalam perjalanan menuju ke laut, Intobu menasehati Impalak.

‘Anakku! Ayah berharap jangan sampai cuaca buruk seperti ini membuatmu patah semangat untuk pergi melaut, karena hanya pekerjaan inilah yang menjadi tumpuan hidup kita.”

“Iya, Ayah! Saya mengerti,” jawab Impalak sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Sesampai di pantai, mereka segera menaiki sampan yang ditambatkan di tepi pantai. Dengan sekuat tenaga mereka mendayung sampan menyusuri pantai. Mereka tidak berani sampai ke tengah laut, karena cuaca sangat buruk. Mereka hanya memancing ikan di sekitar pantai. Tidak terasa, malam semakin larut. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke gubuk.

Setiba di gubuk, beberapa ekor ikan hasil tangkapannya digoreng untuk lauk dan selebihnya mereka jual pada keesokan harinya. Ikan-ikan tersebut mereka jajakan dari rumah ke rumah sampai habis terjual. Setelah semuanya laku terjual, uang hasil penjualan itu mereka belanjakan untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya. Begitulah pekerjaan mereka setiap hari yang sudah bertahun-tahun jalani.

Rupanya pekerjaan itu membuat Impalak menjadi jenuh. Ia ingin pergi merantau ke negeri lain untuk merubah nasib. Sejak itu, ia selalu murung dan merenung. Ia tidak berani menyampaikan keinginan itu kepada ayahnya. Selain itu, ia juga belum tega meninggalkan ayahnya seorang diri. Meskipun tekadnya ingin pergi merantau begitu kuat, ia tetap berusaha memendamnya dalam hati.

Pada suatu hari, ayahnya sedang sibuk memperbaiki tali kailnya yang putus. Sementara, Impalak yang duduk di sampingnya hanya duduk termenung.

“Hei, Impalak! Kenapa wajahmu murung seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?” tanya Intobu kepada anaknya.

“Tidak apa-apa, Ayah!” jawab Impalak dengan nada lemah.

“Bicaralah, Nak! Tidak usah kamu pendam dalam hati!” desak ayahnya.

Oleh karena terus didesak, akhirnya Impalak berterus terang kepada ayahnya.

“Maafkan saya, Ayah! Sebenarnya saya sudah jenuh menjadi nelayan. Walaupun setiap hari kita ke laut, tapi hasil yang kita peroleh hanya cukup untuk dimakan,” keluh Impalak kepada ayahnya.

“Jika Ayah mengizinkan, Impalak ingin pergi merantau ke negeri lain untuk mengubah nasib kita,” sambung Impalak.

Intobu terkejut mendengar permintaan anak semata wayangnya itu.

“Bagaimana dengan nasib Ayahmu ini, Nak? Umur Ayah sudah semakin tua. Jika kamu pergi, tidak ada lagi yang membantu Ayah untuk mendayung sampan,” kata Intobu mengiba kepada anaknya.

“Saya mengerti, Ayah! Tapi, saya sekarang sudah dewasa. Sudah saatnya saya membahagiakan Ayah. Jika Ayah pergi melaut, sebaiknya tidak perlu pergi jauh-jauh. Biarlah saya yang bekerja keras mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan kita dan demi masa depan saya,” jelas Impalak meyakinkan ayahnya.

Mendengar penjelasan anaknya itu, Intobu terdiam sejenak. Ia berpikir bahwa apa yang dikatakan anaknya itu memang benar. Jika hanya menjadi nelayan, kehidupan anaknya di masa depan tidak akan makmur.

“Baiklah, Nak! Meskipun dengan berat hati, Ayah mengizinkanmu pergi merantau. Tetapi, kamu jangan lupakan Ayah dan cepatlah kembali! Ayah khawatir tidak akan bertemu kamu lagi, apalagi umur Ayah sudah semakin tua,” kata Intobu dengan perasaan cemas.

“Baik, Ayah! Saya akan selalu mengingat pesan Ayah,” jawab Impalak dengan perasaan gembira.

Setelah mendapat izin dari ayahnya, Impalak segera ke pelabuhan untuk melihat apakah ada perahu bagga yang sedang berlabuh. Sesampai di pelabuhan, tampaklah sebuah perahu bagga sedang menurunkan muatan. Perahu itulah yang rencananya akan ditumpangi Impalak pergi merantau. Ia pun segera menemui pemilik perahu bagga itu.

“Permisi, Tuan! Bolehkah saya ikut berlayar bersama Tuan?” tanya Impalak tanpa rasa segan.

“Hei, Anak Muda! Kamu siapa dan kenapa hendak ikut berlayar bersamaku?” tanya pemilik perahu.

“Saya Impalak, Tuan! Saya ingin pergi merantau untuk mengubah nasib keluarga saya,” jawab Impalak.

“Memang apa pekerjaannya orang tuamu?” tanya pemilik perahu.

“Ayah saya seorang nelayan biasa, sedangkan ibu saya sudah meninggal saat saya masih kecil. Setiap hari saya membantu ayah memancing ikan di laut. Akan tetapi, hasilnya hanya cukup untuk di makan sehari-hari. Makanya saya ingin pergi merantau untuk mencari nafkah yang lebih baik,” jelas Impalak.

Mendengar penjelasan itu, pemilik perahu itu pun tersentuh hatinya ingin menolong Impalak dan bersedia membawanya ikut berlayar.

“Kamu memang anak yang berbakti, Impalak! Besok pagi kita akan berlayar bersama. Tapi, apakah kamu sudah meminta izin kepada ayahmu?” tanya pemilik perahu.

“Saya sudah mendapat izin dari ayah saya, Tuan!” jawab Impalak.

“Baiklah, kalau begitu! Saya tunggu kamu besok pagi,” kata pemilik perahu itu.

“Terima kasih, Tuan!” ucap Impalak seraya berpamitan pulang.

Sesampai di gubuk, Impalak segera menyampaikan berita gembira itu kepada Ayahnya.

“Ayah, saya sudah menghadap kepada pemilik perahu bagga. Dia bersedia mengajak saya berlayar bersamanya,” lapor Impalak kepada ayahnya dengan perasaan gembira.

“Ya, syukurlah kalau begitu, Nak! Nanti malam siapkanlah segala keperluan yang akan kamu bawa!” seru ayahnya sambil tersenyum pilu.

Keesokan paginya, Impalak sudah siap untuk berangkat. Ia diantar oleh ayahnya ke pelabuhan. Sesampai di pelabuhan, perahu bagga yang akan ditumpangi tidak lama lagi akan berangkat. Tampak si pemilik perahu berdiri di atas anjungan berteriak memanggil Impalak.

“Impalak...! Ayo cepat...! Perahunya sebentar lagi berangkat...”

“Baik, Tuan!” jawab Impalak seraya berpamitan kepada ayahnya.

“Ayah! Saya harus berangkat sekarang, jaga diri Ayah baik-baik!”

“Iya, Nak! Jangan lupakan Ayah, Nak!”

“Baik, Ayah! Saya akan selalu ingat pesan Ayah,” kata Impalak sambil mencium tangan ayahnya.

Suasana haru pun menyelimuti hati ayah dan anak itu. Tidak terasa, Impalak meneteskan air mata. Demikian pula sang Ayah, air matanya berlinang tidak kuat menahan rasa haru.

“Impalak...! Ayo kita berangkat!” terdengar lagi teriakan pemilik perahu memanggil Impalak.

“Ayah, saya berangkat dulu,” jawab Impalak kemudian bergegas menuju ke perahu bagga.

“Kalau sudah berhasil cepat pulang ya, Nak!” teriak sang Ayah sambil melayangkan pandangannya ke arah Impalak yang sedang berlari menuju ke perahu bagga.

Tidak berapa lama, Impalak sudah tampak berdiri di anjungan bersama pemilik perahu sambil melambaikan tangan. Sang Ayah pun membalas lambaian tangan anaknya sambil meneteskan air mata. Beberapa saat kemudian, berangkatlah perahu bagga itu. Setelah perahu bagga menghilang dari pandangannya, Intobu pun bergegas pulang ke gubuknya. Sejak kepergian anaknya, Intobu menjalani hari-harinya seorang diri sebagai nelayan.

Tidak terasa, sudah beberapa tahun Impalak merantau di negeri orang. Namun, ia tidak pernah memberi kabar kepada ayahnya. Hal itulah yang membuat ayahnya selalu gelisah menanti kedatangannya. Setiap ada perahu bagga yang berlabuh di pelabuhan, sang Ayah selalu berharap anak kesayangannya datang membawa rezeki, namun harapan itu tidak pernah terwujud.

Pada suatu hari, ayah Impalak mencari ikan di sekitar pelabuhan dengan menggunakan sampan. Tiba-tiba dari kejauhan, ia melihat sebuah perahu bagga hendak berlabuh di pelabuhan.

“Kenapa jantungku berdebar-debar begini? Jangan-jangan anakku ada di perahu bagga itu? Ah, tidak mungkin. Impalak benar-benar sudah melupakan aku,” ucap ayah Impalak berusaha menepis pikiran-pikiran itu.

Semakin lama perahu bagga itu semakin dekat dan semakin tampak jelas. Jantung ayah Impalak pun berdetak semakin kencang. Ketika perahu bagga itu melintas tidak jauh dari tempatnya memancing ikan, tiba-tiba ia melihat soeorang pemuda gagah bersama seorang wanita cantik berdiri di haluan perahu bagga. Keduanya adalah Impalak dan istrinya. Ternyata, selama berada di rantauan Impalak berhasil menjadi orang kaya dan beristri wanita cantik.

Oleh karena yakin bahwa pemuda itu adalah anaknya, tiba-tiba sang Ayah berteriak.

“Impalaaak....Anakku! Ini aku ayahmu!”

Impalak tahu bahwa lelaki tua yang memanggilnya itu adalah ayahnya. Namun karena malu kepada istrinya, ia berpura-pura tidak mendengar teriakan itu.

“Bang! Sepertinya orang itu memanggil nama Abang. Apakah dia itu ayah Abang?” tanya istrinya setelah mendengar teriakan lelaki tua itu.

“Bukan! Abang tidak mempunyai ayah sejelek lelaki tua itu,” jawab Impalak dengan kesal sambil memalingkan wajahnya.

“Tapi, bukankah orang tua itu mengaku kalau Abang adalah anaknya?” tanya istri Impalak.

“Dia itu hanya mengada-ada,” jawab Impalak dengan ketus.

“Sudahlah, Dik! Tidak usah hiraukan orang gila itu!” tambah Impalak.

Mendengar ucapan itu, istri Impalak pun langsung diam. Ia tidak ingin bertanya lagi tentang lelaki tua itu. Ia berpikir, barangkali suaminya benar bahwa lelaki tua itu adalah orang gila yang mengaku sebagai ayah dari suaminya.

Sementara ayah Impalak dengan sekuat tenaga terus mendayung sampannya mengejar perahu bagga yang ditumpangi Impalak. Ketika akan sampai di pelabuhan, tiba-tiba angin bertiup kencang. Sampan yang ditumpangi ayah Impalak terombang-ambing oleh gelombang besar. Ayah Impalak tidak sanggup lagi mengendalikan sampannya.

“Toloonng... ! Tolooong... aku Impalak!” teriak ayah Impalak meminta tolong.

Namun, malang nasibnya bagi lelaki tua itu. Impalak yang berada di atas perahu bagga itu justru tertawa terbahak-bahak melihatnya diombang-ambing gelombang laut.

“Ha..ha..ha...!!! Rasakanlah itu orang gila!”

Walaupun ayah Impalak berkali-kali berteriak meminta tolong, Impalak tetap tidak memperdulikannya. Perahu yang ditumpangi Impalak justru semakin menjauhinya. Hati lelaki tua itu hancur karena diabaikan oleh anak kandungnya sendiri. Ia sudah tidak tahan lagi melihat perilaku anaknya yang sudah tidak menaruh belas kasihan lagi kepadanya. Dengan mengangkat kedua tangannya, lelaki tua itu berdoa kepada Tuhan.

“Ya Tuhan! Hukumlah anak Hamba yang durhaka itu! Kutuklah perahu bagga yang ditumpanginya itu menjadi batu!”

Beberapa saat kemudian, angin bertiup dengan kencang, ombak laut bergulung-gulung menghantam perahu Impalak sehingga terdampar di pantai. Seketika itu pula, perahu bagga dan Impalak menjelma menjadi batu. Oleh masyarakat setempat batu itu kemudian diberi nama Batu Bagga.

* * *

Demikianlah cerita Legenda Batu Bagga dari Sulawesi Tengah, Indonesia. Cerita legenda di atas mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah akibat yang ditimbulkan dari sifat durhaka terhadap kedua orang tua. Sifat ini tercermin pada perilaku Impalak yang tidak mau mengakui ayah kandungnya yang miskin itu. Akibatnya, ia pun dikutuk oleh Tuhan menjadi batu. Dari sini dapat kita pahami bahwa harta benda dapat membutakan hati seseorang, sehingga orang tua sendiri pun dapat diabaikan. Pelajaran lain yang dapat diambil dari cerita di atas adalah bahwa doa orang tua yang disia-siakan akan dikabulkan oleh Tuhan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

kalau ibu bapak engkau abaikan,
disitulah tempat murka Tuhan
siapa durhaka ke ibu bapak,
celaka menimpa tertimpa balak

(SM/sas/74/05-08)

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Jaruki Atisah, Muhammad. 2001. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah. Jakarta: Grasindo.
Anonim. “Kabupaten Toli-Toli”, (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Toli-Toli, diakses tanggal 15 Mei 2008.
Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
Http://melayuonline.com

Minggu, 21 Desember 2008

Putri Tadampalik
Di Posting Oleh : DONLOAD APLIKASI (MUJI)
Kategori : Cerita Rakyat Folk Tales Sulawesi Tengah

Datu Luwu La Bustana Datu Maongge, raja kerajaan Luwu yang terkenal bijaksana dan gagah berani, hari itu terlihat bingung. Pagi ini dia baru menerima utusan Raja Bone yang ingin melamar putrinya yang cantik jelita, Putri Tadampalik untuk pangeran Bone. Datu Luwu berada dalam posisi yang sulit. Di satu pihak jika ia menerima lamaran tersebut, artinya dia melanggar adat yang tidak memperbolehkan putri Luwu menikah dengan lelaki di luar sukunya. Namun jika menolak, dia khawatir kerajaan Bone yang terkenal kuat akan menyerang negerinya dan membuat rakyat menderita.

Setelah mempertimbangkan masak-masak akhirnya Datu Luwu memutuskan untuk menerima pinangan raja Bone. Maka para utusan raja Bone pun pulang ke negerinya dengan membawa berita bahagia.

Namun beberapa hari kemudian tiba-tiba putri Tadampalik jatuh sakit. Penyakitnya sangat aneh. Kulit sang putri yang tadinya putih dan mulus, kini dipenuhi benjolan-benjolan yang mengeluarkan nanah dan berbau amis. Sangat menjijikan. Tabib-tabib yang mencoba mengobati sang putri pun angkat tangan.

Khawatir penyakit putrinya akan menular dan menjadi wabah, dengan berat hati Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan putrinya keluar dari Luwu. Dibuatkanlah sebuah rakit raksasa untuk membawa sang putri yang hanya ditemani oleh beberapa pengawal dan dayang setianya.

Pada hari yang ditentukan, Datu Luwu memberikan sebilah keris pusaka kepada putrinya dan berpesan untuk selalu menjaga diri. Rakit itu pun meluncur ke arah muara diiringi tangis kesedihan rakyat Luwu.

Setelah berhari-hari berlayar, mereka menemukan sebuah tempat yang sangat subur dan memutuskan untuk berlabuh. Di sana mereka membuatkan bangunan untuk putri Tadampalik, mendirikan pemukiman dan mulai bercocok tanam. Karena di daerah itu banyak ditemukan pohon Wajo maka mereka menamakan tempat itu desa Wajo dan putri Tadampalik diberi gelar putri Wajo.

Suatu hari, ketika putri Tadampalik sedang duduk di beranda, tiba-tiba seekor kerbau bule datang menghampirinya dan lalu menjilati kulitnya. Air liur kerbau bule tersebut terasa sejuk sehingga sang putri membiarkan kerbau itu menjilatinya.

Sejak itu, setiap hari kerbau bule tersebut selalu datang dan menjilati kulit putri Tadampalik hingga lama kelamaan kulit sang putri yang membusuk mulai mongering dan akhirnya benar-benar sembuh. Bahkan kulit putri Tadampalik semakin putih dan mulus. Putri tadampalik mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mengirim kerbau bule tersebut. Sebagai tanda syukurnya putri Tadampalik melarang rakyat dan keturunannya mengganggu apalagi menyembelih kerbau bule. Suatu hari pangeran Bone yang sedang berburu bersama para pengikutnya tersesat dan terpisah dari rombongannya. Dia masuk jauh ke dalam hutan hingga dia tidak tahu lagi arah mana yang harus ditempuh. Tiba-tiba dia melihat cahaya lampu di kejauhan. Maka dipacunya kudanya menuju arah cahaya tersebut.

Ternyata itu adalah perkampungan putri Tadampalik. Maka dia pun dibawa menghadap sang putri. Pangeran sangat terpesona dengan kecantikan putri Tadampalik dan ia pun jatuh cinta. Pangeran tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia telah ditunangkan dengan putri Tadampalik.

Maka setelah beberapa hari tinggal di pemukiman tersebut dan pangeran bersiap-siap untuk kembali ke negerinya, dia mengungkapkan keinginannya untuk memperisteri putri Tadampalik. Keinginan pangeran Bone itu tidak main-main. Beberapa hari kemudian pangeran dan beberapa utusannya kembali datang dan meminang putri Tadampalik secara resmi. Putri lalu menyerahkan keris pusaka kerajaan Luwu dan meminta pangeran untuk menyerahkan keris itu kepada ayahandanya. Jika keris itu diterima dengan baik oleh ayahnya, artinya lamaran pangeran diterima.

Perjalanan itu ditempuh oleh pangeran dengan penuh semangat. Di hadapan Datu Luwu diceritakannya pertemuannya dengan putri Tadampalik dan niatnya untuk memperistri sang putri. Datu Luwu sangat gembira mendengar kesembuhan puterinya. Itu artinya Tuhan pun telah merestui hubungan putrinya dengan pangeran Bone. Maka Datu Luwu menerima pinangan pangeran Bone.

Sepekan kemudian dilangsungkanlah pesta pernikahan yang meriah antara putri Tadampalik dengan pangeran Bone. Akhirnya pangeran Bone memboyong putri Tadampalik ke Bone dimana mereka hidup bahagia selamanya.
Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/dong%20indo/putri_tadampalik.html