Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2013

Puteri Hijau
Di Posting Oleh : DONLOAD APLIKASI (MUJI)
Kategori : Aceh Legenda Sejarah Sumatera Utara


 Cerita Rakyat dari Melayu Deli dan Tanah Karo


Istana  Maimoon, Melayu Deli, Medan, Sumatra Utara

Abad 15 dan 16 adalah periode paling berdarah di zona dataran rendah Aceh, Sumatra Timur, dan semenanjung Malaysia. Empat kerajaan saling bantai, berkonspirasi, dan saling menaklukkan untuk memperebutkan kekuasaan pada zona perdagangan internasional yang kini dikenal dengan Selat Malaka. Di tengah kecamuk perebutan kue ekonomi itu, pada tepian sungai Deli--tepatnya sekitar 9 km dari Labuhan Deli--lahirlah sebuah legenda klasik bernama Puteri Hijau.

Legenda Sang Puteri yang selalu digambarkan dengan segala kosa kata kecantikan, bertahan hingga kini dalam dua versi. Versi pertama berasal dari catatan sejarah yang mirip cerita lisan yang berkembang di masyarakat Melayu Deli. Versi kedua adalah hikayat dari masyarakat Karo. Keduanya bertentangan dan kelihatan sekali saling berlomba menonjolkan identitas dan ego suku masing-masing.

Dari versi lisan Melayu, konon pernah lahir seorang puteri yang sangat cantik jelita di desa Siberaya, dekat hulu sungai Petani (sungai Deli). Kecantikannya memancarkan warna kehijauan yang berkilau dan menjadi kesohor ke berbagai pelosok negeri, mulai dari Aceh, Malaka, hingga bagian utara pulau Jawa. Ia kemudian dinamai Puteri Hijau. Dalam hikayatnya, Sang Puteri memiliki dua saudara kembar yang dipercaya adalah seekor naga bernama Ular Simangombus dan sebuah meriam bernama Meriam Puntung.

Alkisah, Ular Simangombus memiliki selera makan yang luar biasa. Ia digambarkan seakan tidak pernah kenyang. Rakyat Siberaya akhirnya tidak sanggup lagi menyediakan makanan untuk naga ini, sehingga Sang Puteri bersama kedua saudaranya memutuskan pindah ke hilir sungai dan menetap di sebuah perkampungan baru yang sekarang dikenal dengan nama Deli Tua. Di sini, para pengikutnya membangun benteng yang kuat. Dengan demikian, negeri itu cepat makmur.

Kecantikan Sang Puteri yang menyebar seperti kabar burung ke segala penjuru, suatu ketika mendarat di telinga Raja Aceh. Ia lantas kepincut dan mengirim bala tentara untuk meminang Puteri Hijau. Utusan langsung dikirim. Pantun bersahut-sahutan. Tapi pinangan ini ditolak dan membuat Raja Aceh betul-betul dilanda murka. Ia merasa diri dan kerajaannya dihina sehingga jatuhlah perintah untuk segera menyerang benteng Puteri Hijau. Tapi karena bentengnya sangat kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya.

Menyadari jumlah pasukannya makin menyusut setelah banyak yang terbunuh, panglima-panglima perang Aceh memakai siasat baru. Mereka menyuruh prajuritnya menembakkan ribuan uang emas ke arah prajurit benteng yang bertahan di balik pintu gerbang. Suasana menjadi tidak terkendali karena para penjaga benteng itu berebutan uang emas dan meninggalkan posnya. Ketika mereka tengah sibuk memunguti uang logam, tentara Aceh menerobos masuk dan dengan mudah menguasai benteng.

Pertahanan terakhir yang dimiliki orang dalam adalah salah seorang saudara Puteri Hijau, yaitu Meriam Puntung. Tapi karena ditembakkan terus-menerus, meriam ini menjadi panas, meledak, terlontar, dan terputus dua. Bagian moncongnya tercampak ke kampung Sukanalu. Sedangkan bagian sisanya terlontar ke Labuhan Deli, dan kini ada di halaman Istana Maimoon Medan.

Melihat situasi yang tak menguntungkan, Ular Simangombus, saudara Sang Puteri lainnya, menaikkan Puteri Hijau ke atas punggungnya dan menyelamatkan diri melalui sebuah terusan (Jalan Puteri Hijau), memasuki sungai Deli, dan langsung ke Selat Malaka. Dan hingga sekarang kedua kakak beradik ini dipercaya menghuni sebuah negeri dasar laut di sekitar Pulau Berhala.

Namun sebuah anak legenda menyebutkan bahwa Puteri Hijau sebenarnya sempat tertangkap. Ia ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, Putri Hijau memohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, ia diberikan berkarung-karung beras dan beribu-ribu telur.

Tetapi baru saja upacara dimulai, tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang maha dahsyat, disusul gelombang yang tinggi dan ganas. Dari perut laut muncul jelmaan saudaranya, Ular Simangombus, yang dengan rahangnya mengambil peti tempat adiknya dikurung. Lalu Puteri Hijau dilarikan ke dalam laut dan mereka bersemayam di perairan pulau Berhala. Menurut cerita ini, saudara-saudara Puteri Hijau adalah manusia-manusia sakti yang masing-masing bisa menjelma menjadi meriam dan naga. Memang, cerita lisan selalu mewariskan banyak versi sesuai selera masing-masing penceritanya.


***



Kajian Pustaka dan Sejarah

Dalam bukunya, Sejarah Medan Tempo Doeloe, sejarahwan Tengku Luckman Sinar mencoba menempatkan legenda Puteri Hijau sebagai salah satu setting sejarah perlawanan Kerajaan Haru yang berpusat di Deli Tua terhadap serangan Kerajaan Aceh, sekaligus juga menjadi latar proses terbentuknya etnis Melayu di Sumatra Timur.

Nama Kerajaan Haru sudah dikenal sejak akhir abad 13. Bukti tertulis pertama yang mengabadikan kerajaan ini adalah catatan Tiongkok pada tahun 1282 M, tepatnya pada zaman pemerintahan Kubilai Khan. Catatan itu mengisahkan, Kerajaan Haru mengirimkan utusannya untuk misi dagang ke Tiongkok.

Sedang berdasarkan hikayat Melayu dan hikayat Raja-raja Pasai, Kerajaan Haru sudah menganut Islam sejak pertengahan abad 13. Disebutkan, nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad mula-mula mengislamkan negeri Fansuri (Barus), Lamiri (Lamuri), lalu Haru. Kerajaan Samudera Pasai dan Malaka sendiri diislamkan kemudian. Jadi, dari hikayat ini, Kerajaan Haru lebih dulu memeluk Islam ketimbang Aceh dan Malaka, meskipun kemudian Malakalah yang menjadi pusat pengembangan Islam di kawasan Nusantara.

Pada masa tersebut, Kerajaan Haru sudah menjadi salah satu pemegang peranan penting dalam wilayah perdagangan dunia di Selat Malaka. Pedagang-pedagang Persia, Portugis, Cina dan Eropa punya catatan masing-masing tentang wilayah ini, di mana Haru adalah salah satu kerajaan yang memungut pajak di samping Samudera Pasai dan Malaka yang kemudian dijajah Portugis.

Sebelum akhirnya diserang Kerajaan Sriwijaya yang ingin mempersatukan Nusantara pada tahun 1275 M, Kerajaan Haru memiliki satu bandar perdagangan besar di Kota Cina, yang letaknya antara sungai Deli dan sungai Buluh Cina. Saat itu, Haru sudah memiliki hubungan bisnis yang erat dengan Dinasti Sung Selatan. Kapal-kapal Tiongkok langsung mendatangi bandar ini untuk melakukan perdagangan. Tak heran bila para peneliti masih menemukan sejumlah koin mata uang Cina kuno di kawasan ini.

Setelah bandar perdagangan Haru dihancurkan Sriwijaya dalam “Ekspedisi Pamalayu”, masa pemulihannya tak begitu lama. Karena potensialnya kawasan ini, bandar kembali ramai dan perdagangan dengan Tiongkok terus berlangsung. Kerajaan Haru malah kian berkembang pasca penaklukan Sriwijaya. Pedagang Persia, Fadiullah bin Abdul Khadir Rasyiuddin dalam bukunya “Jamiul Tawarikh” menjelaskan, negeri-negeri utama di Sumatera pada tahun 1310 M adalah Lamuri, Samudera Pasai, Barlak (Perlak), Dalmyan (Temiang) dan Haru.

Tapi musibah kedua menimpa Haru ketika tentara Kerajaan Majapahit pada tahun 1350 M juga tiba dan menaklukkan daerah ini. Dalam kronik Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca disebut bahwa di samping Panay (Kerajaan Pane di Portibi), juga ditaklukkan Kampe (Kompai) dan Harw (Haru). Di hulu sungai Ular, masih ada kampung bernama “Kota Jawa” dan “Timbun Tulang” yang menurut legenda di teluk Haru menunjukkan adanya lokasi penimbunan tulang tentara Majapahit yang mati diracuni gadis-gadis setempat.

Setelah lepas dari cengkeraman Majapahit, Haru kembali berhubungan dengan Tiongkok. Pada tahun 1412 M, Laksamana Cheng Ho yang diutus Kaisar Tiongkok mengunjungi pulau-pulau di nusantara, singgah di Haru. Kunjungan itu mencatat bahwa penguasa Haru kala itu bernama Tuanku Alamsyah, putra dari Sultan Husin (raja sebelumnya). Cheng Ho, laksamana legendaris dari Tiongkok, mengangkut persembahan Haru untuk Tiongkok. Tercatat dua kali Cheng Ho singgah di Haru. Setelah itu ia tak pernah muncul lagi karena Tiongkok juga bergolak oleh perang dinasti yang tiada henti.

Sepanjang masa kejayaannya, Kerajaan Haru, Samudera Pasai dan Malaka (Portugis) adalah tiga serangkai yang kadang berdamai dan kadang saling bertikai memperebutkan peranan di perairan Selat Malaka. Menurut sejarah Melayu, pada tahun 1477 M sampai 1488, Haru menaklukkan Kerajaan Pasai gara-gara sebuah penghinaan yang dilakukan Raja Pasai terhadap utusan Raja Haru. Tapi Kerajaan Pasai kemudian dibantu Malaka, sehingga kerajaan ini juga otomatis menjadi musuh Haru. Tapi ketika Raja Malaka diusir Portugis ke Johor, Raja Haru juga bersahabat dengannya sehingga membuat iri Kerajaan Aceh.

Pada pertengahan abad 15 itu, Haru disebut-sebut juga punya niat menghancurkan Pasai di utara dan Malaka di selatan untuk mengambil alih posisi Sriwijaya zaman dulu. Tapi niat itu tidak pernah terwujud. Malah Kerajaan Haru terjebak posisi sulit dan tidak aman karena dikelilingi musuh. Untuk membuat pertahanan yang kuat, mereka meninggalkan Kota Cina dan ibu kota Haru naik lagi ke atas sungai Deli.

Pada tahun 1511 M, Portugis menguasai Malaka dan memperoleh keuntungan besar dari lalu lintas perdagangan di Selat Malaka. Tapi kemudian Kerajaan Pasai membangun sebuah bandar perdagangan tandingan di Sabang dengan pajak lebih rendah dan pelayanan yang lebih bagus. Portugis yang marah-marah, dimanfaatkan Kerajaan Haru untuk bersama-sama menyerang Pasai pada tahun 1514 M. Tapi di Pasai, Portugis diusir oleh imperium Aceh yang baru lahir. Haru sendiri makin rawan, dan terpaksa memindahkan kerajaannya makin ke pedalaman.

Haru adalah kerajaan besar. Kekuasaannya membentang dari Sungai Rokan hingga Temiang (Aceh Tamiang). Tapi mengapa sejarahnya seperti tidak meninggalkan bekas? Satu teori mengatakan, kerajaan yang dibangun oleh etnis bermarga Karo Sekali (Karo asli) ini tidak memiliki satu proyek kebudayaan selama masa kekuasaannya. Meskipun memeluk Islam, tapi mereka bukanlah pusat pengembangan Islam. Ini berbeda dengan Malaka, Pasai, Sriwijaya, atau Majapahit, yang masing-masing memang mengembangkan satu pusat pengetahuan dan intelektualisme yang ditandai adanya tradisi penulisan sejarah.

Sebaliknya, Kerajaan Haru tidak memiliki catatan yang berarti, sehingga keberadaannya sempat tenggelam dalam teka-teki yang sulit. Sejumlah catatan menyebutkan Haru sebagai kerajaan bar-bar yang suka bertempur dan membajak kapal-kapal asing di Selat Malaka. Penulis Portugis, Tome Pires, menggambarkan Haru sebagai kerajaan terbesar di Sumatera.

Rakyatnya banyak, tetapi tidak kaya karena perdagangan. Mereka memiliki kapal-kapal kencang dan sangat terkenal karena daya penghancurnya. Sejak Malaka lahir, Kerajaan Haru selalu menjadi musuh bebuyutan orang Malaka dan sangat ditakuti. Mereka merampas rakyat malaka. Tiba-tiba saja orang-orang Haru menyergap sebuah kampung dan mengambil segala yang berharga.

Rakyat Haru disebut suka berperang. Haru banyak menghasilkan padi, daging, ikan, buah-buahan, arak, kapur barus berkualitas tinggi, emas, benzoin, aphotecary’s ignaloes, rotan, lilin, madu, budak-budak, dan sedikit saja yang pedagang. Mereka memperoleh barang dagangan melalui Pasai, Pedir, Fansuri dan Minangkabau. Bahkan Haru memiliki sebuah kota pasar budak yang disebut Arqat (Rantauperapat sekarang).

Setelah imperium Aceh bangkit di akhir kejayaan Pasai, keberadaan Haru makin terancam. Negeri Aceh yang dulu berulangkali diserangnya ternyata mampu menyatukan diri di bawah Sultan Aceh bernama Al Qahhar. Selama abad 16, giliran Sultan Aceh yang berkali-kali menyerang Haru, sampai akhirnya Haru takluk dan diperintah oleh perwakilan dan kepercayaan Sultan Aceh bernama Gocah Pahlawan yang dipercaya sebagai keturunan Raja India yang merantau ke Nusantara. Gocah Pahlawan adalah penakluk Haru dan pendiri cikal-bakal Kerajaan Deli.
Lalu siapa sebenarnya etnis Melayu? Pada saat kapan legenda Puteri Hijau muncul? Cerita ini menjadi kian menarik.

***

Legenda Puteri Hijau, bila dikaitkan dengan sejarah Kerajaan Haru, terbit ketika kerajaan itu sedang sengit-sengitnya mempertahankan diri dari serangan Imperium Aceh yang baru terbentuk di bawah Al Qahhar. Mundur ke belakang sedikit, menurut sejarah Melayu, nama Sultan Haru pada tahun 1477-1488 M adalah Maharadja Diraja, putera Sultan Sujak yang turun dari “Batu Hilir dikata Hulu, Batu Hulu dikata Hilir”.

Mungkin pada kalimat itu, yang dimaksudkan adalah “Batak Hilir dikata Hulu, Batak Hulu dikata Hilir”. Kata “Batak” sengaja dihilangkan karena maknanya bisa mengandung penghinaan, mengingat nama “Batak” pada saat itu menunjuk pada pengertian “terbelakang”, orang-orang pedalaman di gunung yang belum memeluk Islam.
Jadi, orang Haru awalnya berasal dari pegunungan, turunan Batak, yang kemudian masuk Islam menjadi Melayu.

Dengan kata lain, sebagaimana yang disimpulkan Tengku Luckman Sinar, etnis Melayu sebenarnya bukan sebuah ikatan genealogis (ras), tetapi ikatan kultur dan agama. Pada masa itu, yang disebut Melayu adalah semua orang yang masuk Islam. “Jadi, Melayu sekarang adalah percampuran dari banyak suku, seperti Batak, India, Aceh, dan masyarakat Johor di Riau. Ikatannya pada kultur dan agama,” jelas Luckman.

Orang-orang Haru yang turun pertama sekali ke dataran rendah dan memeluk Islam menamakan dirinya Karo Sekali (Karo asli) yang kemudian menjadi marga tersendiri. Marga itu masih ditemui di Desa Siberaya, dekat Delitua. Kata “Haru” sendiri kemungkinan besar adalah sebutan untuk orang Karo asli ini.

Mereka tidak mau disamakan dengan marga-marga Karo sekarang yang menurut mereka adalah golongan Karo-Karo (bukan asli). Orang Karo-Karo seperti Tarigan, Sembiring, Perangin-angin, Sitepu, dan Ginting, baru turun ke Deli pada awal abad 17 dan membentuk “urung-urung” (daerah kekuasaan berdasarkan marga dan ikatan keluarga). Penduduk asli Asahan juga mengaku berasal dari marga Haro-Haro (Karo-Karo). Sementara di Temiang, Rokan, dan Panai, masih ditemukan suku Haru.

Sebagian dari Karo-Karo ini masuk Islam (jadi Melayu) dan bersama-sama orang Aceh menyebarkan agamanya sampai ke lereng pegunungan. Mereka juga menikah dengan orang-orang pesisir dan Aceh. Bahkan, marga Sembiring konon adalah orang yang diusir dari Aceh.

Nah, dari sini kita sudah bisa menggambarkan siapa sebenarnya orang Haru dan Kerajaan Haru, tempat munculnya Legenda Puteri Hijau. Seorang utusan Portugis, Ferdinand Mendes Pinto, menceritakan selintas tentang masa penyerangan Sultan Aceh Al Qahhar ke Haru di tahun 1539 M. Penyerangan Aceh itu dilakukan 2 kali, yaitu pada Januari dan November tahun yang sama.

Pinto menuliskan, setelah ia berlayar 5 hari dari Malaka, ia sampai pada sungai Panetican (Deli), di mana ibukota Haru berdiri. Raja Haru saat itu sedang sibuk mempersiapkan kubu-kubu dan benteng-benteng di kiri-kanan sungai. Letak istana kira-kira satu kilometer ke dalam. Diduga kuat, lokasi yang dimaksud adalah Delitua. Apalagi, sisa benteng itu masih dapat dilihat sekarang, dan beberapa penduduk pernah menemukan mata uang dan peluru emas milik tentara Aceh.

“Haru hanya mempunyai sebuah meriam besar yang dibelinya dari seorang pelarian Portugis di Pasai. Mendengar akan sampainya armada Aceh, maka Sultan Haru menyuruh pasukannya mengungsikan wanita-wanita dan anak-anak, termasuk permaisurinya Anche Sinny (Anggi Sini atau Encik Sini) ke hutan sejauh 39 km dari ibukota. Kerajaan Aceh banyak sekali menggunakan serdadu-serdadu bayaran dari Gujarat, Malabar, Hadramaut, Lanun, dan sebagainya,” tulis Pinto.

Setelah dikepung 17 hari, orang Aceh berhasil menghancurkan dinding-dinding kubu pertahanan Haru. Tapi karena banyak korban di pihaknya, maka Aceh memakai siasat menyogok panglima-panglima Haru dengan uang emas agar mereka mau meninggalkan penjagaan di benteng utama. Dalam sebuah pertempuran sengit, Sultan Haru tewas dan Haru takluk.

Permaisuri Haru, Anggi Sini, membentuk pasukan gerilya, tapi tidak berhasil merebut benteng itu kembali. Akhirnya ia bersama pengikutnya naik perahu dari sebuah sungai dan berlayar menuju Malaka. Perlu diketahui, perahu pada masa itu umumnya berlambangkan kepala naga. Di sana ia disambut baik Gubernur Portugis, tapi tidak bersedia memberi bala bantuan untuk merebut Kerajaan Haru. Diam-diam permaisuri bertolak ke Bintan dan menjumpai Raja Melayu Riau-Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah II, putera almarhum Raja Malaka Sultan Mahmudsyah.

Permaisuri Haru disambut baik dan Johor bersedia membantunya merebut benteng Haru dengan satu syarat, Permaisuri Haru bersedia menikah dengannya. Syarat tersebut bisa jadi membuktikan bagaimana menarik dan cantiknya Anggi atau Encik Sini, seorang gadis Karo dari Desa Siberaya. Akhirnya Haru dapat direbut kembali dari Aceh.

Cerita Pinto ini banyak persamaannya dengan Legenda Puteri Hijau, baik dari segi tahunnya maupun simbol-simbol legendanya. Penaklukan benteng Haru pada tahun 1539 M sama dengan penaklukan Puteri Hijau di Deli Tua yang tertuang dalam Hikayat Puteri Hijau. Kemungkinan besar Anggi atau Encik Sini adalah Puteri Hijau itu sendiri. Meriam besar satu-satunya yang dimiliki Kerajaan Haru barangkali merujuk “saudara” Puteri Hijau yang karena digunakan berkali-kali akhirnya pecah menjadi dua bagian. Sedang “saudara” naga yang dinaiki Puteri Hijau menuju Selat Malaka punya kesamaan dengan perahu berkepala naga yang dipakai Anggi atau Encik Sini.

Setelah itu, Haru masih berulang-ulang diserang Aceh hingga kemudian takluk oleh Sultan Aceh pada abad 16. Kekuasaan Aceh di Haru menandai dimulainya babak baru Kerajaan Ghuri yang kemudian berubah nama menjadi Kerajaan Deli yang kita kenal sekarang. Ketika Belanda muncul, riwayat Haru makin menghilang. Akibatnya, sampai sekarang, orang selalu sukar melihat suku Karo dan Melayu Deli dalam satu kesatuan. Padahal, bangunan Kerajaan Deli seperti Istana Maimoon saja masih jelas diwarnai oleh ornamen khas suku Karo. Lihatlah misalnya bangunan tempat Meriam Puntung di pekarangan Istana Maimoon.

***

Tapi itu adalah legenda versi Melayu. Bagi orang Karo, versi kepahlawanan Sang Puteri justru dianggap mengada-ada. Pak Sitepu yang saat ini menjaga perigi yang dipercaya sebagai tempat pemandian Puteri Hijau menyebut wanita rupawan itu sebagai aib bagi warga Karo, khususnya Desa Siberaya.

Puteri Hijau yang kemudian dinobatkan sebagai boru Sembiring lahir tanpa ayah. Sebagian orang menyebut ibunya kawin dengan makhluk gaib, sebagian lagi menuduhnya berzinah. Karena menanggung aib, Puteri Hijau yang dipercaya lahir bersama sebuah meriam dan seekor naga, akhirnya memilih pergi dari Siberaya dan menetap di sebuah pemukiman baru di daerah Delitua.
Sampai kini, tempat pemandian Sang Puteri masih dijaga dan dikeramatkan. Orang-orang Tionghoa, beberapa keluarga Kerajaan Deli, dan masyarakat yang meminta sesuatu, masih acap datang berziarah ke perigi yang memiliki sumber mata air jernih dan tiada pernah habis ini.

Menurut orang Karo, sesungguhnya mereka adalah penduduk pertama di pesisir timur, sedang orang Melayu dan Aceh adalah kaum pendatang. “Kalau kami pendatang, kenapa warga Karo yang justru lebih banyak bermukim di Padangbulan, Delitua, Langkat, dan daerah pesisir lainnya?” ujar Pak Sitepu.

Ia juga menyebutkan bahwa nama-nama di daerah pesisir seperti Belawan dan Medan adalah nama-nama Karo. Belawan dulunya berasal dari “perbelawanan” yang artinya tempat bersumpah. Di sini orang-orang melakukan sumpah untuk tidak berbuat sesuatu yang jahat atau melanggar adat. Dulunya, masih kata Sitepu, banyak orang Karo yang diusir ke daerah pesisir karena melanggar adat di kampungnya, semisal kawin semarga.

Orang-orang tersebut kemudian berkembang di daerah pesisir, bergaul dengan para pendatang dari Malaka. Mereka menghilangkan marganya karena malu, dan baru belakangan memakainya kembali. Sehingga tidak heran bila di pesisir Langkat, Labuhan Batu dan Tanjungbalai, muncul marga-marga Batak yang sebelumnya tidak disebut-sebut.

Di tengah warga Karo sendiri, cerita tentang Puteri Hijau masih terbagi dalam banyak anak versi. Tapi secara umum, mereka melihat Sang Puteri dari kaca mata negatif dan merasa bahwa menceritakan legenda Puteri Hijau sama dengan membuka aib sendiri.

Dari sudut pandang ilmu sejarah, cerita lisan versi Karo memang lebih sulit diterima akal karena tidak memiliki logika runtut sebagaimana yang dilansir Tengku Luckman Sinar. Namun terlepas dari kontroversi masa lalu yang sudah sarat dengan kepentingan identitas, warga Karo dan Melayu masih sama-sama menghidupkan Legenda Puteri Hijau di hati masing-masing.

Perigi Puteri Hijau saat ini dijaga oleh penduduk Kampung Delitua yang seluruhnya adalah orang Karo. Perkampungan tua ini terletak sekitar 1,5 km dari Pajak Delitua. Untuk mencapainya, kita harus melewati sebuah titi gantung yang menghubungkan kedua bibir sungai Deli. Selain perigi Puteri Hijau, kampung ini juga dikelilingi benteng berupa lubang besar yang di sisinya ditanami rumpun-rumpun bambu.

Konon, desa ini tak pernah takluk pada Belanda ketika Kerajaan Melayu Deli sudah menjalin kerjasama dengan Belanda. Hal itu ditandai dengan tiadanya tanaman bakau di kawasan Kampung Delitua. Padahal pengusaha Belanda, Nienhuys, hampir menguasai seluruh areal penanaman tembakau waktu itu.

Tapi bagaimanapun masa lalu Puteri Hijau yang sebenarnya, ada atau tidak pernah ada, sekeras apa kontroversinya, itu semua justru memperkaya hikmah yang dikandungnya. Dan yang terpenting, legendanya adalah sebuah aset wisata. ***


Sumber : Story to be Remember
Dikisahkan kembali oleh Raja Johor pada http://storytoberemember.blogspot.com/2010/10/puteri-hijau.html

Senin, 21 Januari 2013

Sengeda dan Gajah Putih
Di Posting Oleh : DONLOAD APLIKASI (MUJI)
Kategori : Aceh Cerita Rakyat Folk Tales Legenda Sejarah

Cerita Rakyat dari Gayo Lues, Aceh
Genre : Sejarah dan Legenda
Raja negeri Laos menunggang gajah putih.
Di dunia nyata gajah putih memang ada, ia dikenal sebagai gajah albino.

Pada masa lalu di dataran tinggi Gayo tinggal dua orang kakak beradik yakni, Sengeda dan Bener Meriah bersama ibu mereka. Suatu hari kedua kakak beradik itu menanyakan kepada ibunya siapakah keluarga mereka sebenarnya. Diterangkanlah oleh ibu mereka bahwa ayah mereka bernama Raja Lingga ke XIII, raja yang berkuasa di negeri Lingga. Sedangkan dari pihak ibu mereka adalah keluarga Sultan Malaka. Raja Lingga yang sekarang berkuasa adalah Abang kandung seayah dengan mereka. Sehabis menceritakan asal usul keluarga mereka sang ibu menyerahkan dua pusaka peninggalan almarhun ayahnya Raja Lingga XIII berupa sebilah pedang dan sebentuk cincin permata yang dalam dua benda pusaka tersebut terdapat tulisan yang bertuliskan bahwa kedua benda tersebut milik Raja Lingga yang diwariskan secara turun temurun pada keturunannya. Mendengar cerita tersebut keduanya sepakat untuk pergi ke Lingga untuk menemui Abang dan para kerabatnya.

Setelah mendapat izin dari ibunya, keduanya berangkat menuju Lingga. Sesampainya di sana dengan diantar oleh penguasa setempat, keduanya menghadap Raja Lingga XIV dengan hati penuh suka cita. Di halaman Umah Tujuh Ruang tempat Raja Lingga XIV bertahta mereka sangat terkagum-kagum akan keindahan tempat tersebut. Sesampainya di dalam Umah Tujuh Ruang mereka takjup akan keindahan dan kemewahan tempat tersebut. Mereka kagum akan kebesaran saudara mereka sebagai Raja Lingga XIV. Dihadapan raja dan para pembesar Kerajaan Lingga lainnya, mereka menceritakan maksud kedatangan mereka yang ingin bertemu dengan saudaranya dan juga para kerabat yang lain. Diceritakan pula bahwa mereka adalah anak dari Raja Lingga XIII dan juga keturunan keluarga Sultan Malaka. Tidak lupa mereka memperlihatkan pusaka pemberian ibu mereka kepada para hadirin sebagai bukti bahwa mereka keturunan Raja Lingga XIII.

Mendengar pengakuan dari kedua kakak beradik tersebut seluruh hadirin terharu dan merasa bersyukur bahwa keluarga mereka telah kembali. Namun dalam beberapa saat mereka terkejut akan ucapan Raja yang menuduh mereka berbohong. Menurut raja mereka bukanlah keluarga Raja Lingga XIII. Pusaka yang mereka miliki memang benar milik Raja Lingga XIII, tetapi pusaka tersebut telah dicuri oleh seseorang setelah membunuh Raja Lingga XIII. Dengan demikian kedua kakak beradik tersebut adalah pembunuh Raja Lingga XIII.

Mendengar tuduhan tersebut tentunya kedua kakak beradik terkejut bukan kepalang. Mereka sangat sedih bahwa mereka dituduh membunuh Ayah mereka. Atas dasar itu, raja pun memutuskan hukuman pada keduanya berupa hukuman mati. Mendengar titah raja yang demikian seluruh hadirin sangat terkejut. Para pembesar kerajaan berusaha meluruskan permasalahan dan meyakinkan raja bahwa kedua kakak beradik tersebut memang benar-benar anak Raja Lingga XIII. Dengan segala cara para hadirin yang terdiri dari para pembesar kerajaan dan kerabat istana membujuk raja untuk merubah keputusan, namun hati baginda raja telah membantu dan tetap memerintahkan kakak beradik tersebut untuk dihukum mati.

Untuk melaksanakan hukuman mati tersebut baginda raja memerintahkan seorang algojo untuk memancung Bener Meriah. Sedangkan Cik Serule salah seorang pembesar kerajaan ditugasi untuk memancung Sengeda. Atas perintah tersebut algojo yang berhati bengis ini langsung menyeret Bener Meriah dari Umah Tujuh Ruang untuk dipancung ditengah lapangan. Dalam sekejap akhirnya Bener Meriah merenggangkan nyawanya di tanggan algojo. Pakaian Bener meriah yang berlumuran darah dibawa algojo dan diserahkan pada raja sebagai bukti Bener meriah telah mati.

Sedangkan Sengeda dibawa Cik Serule ke suatu tempat untuk dibunuh. Dalam perjalanan ke tempat tersebut hati Sengeda hancur lebur menyaksikan kepergian saudaranya Bener meriah di tangan algojo atas perintah raja yang tamak. Sengeda telah pasrah dibawa kemanapun oleh Cik Serule.

Tanpa diduga sebelumnya oleh Sengeda, ternyata Cik Serule tidak membunuh Sengeda bahkan menyembunyikan Sengeda di suatu tempat tersembunyi. Untuk membuktikan bahwa perintah dari baginda Raja Lingga XIV telah dilaksanakan, Cik Serule meminta pakaian yang dikenakan Sengeda dan melumuri pakaian tersebut dengan darah binatang. Cik Serule memerintahkan Sengeda untuk tidak pergi meninggalkan tempat persembunyaian sampai beliau datang menjemputnya.

Setelah merasa aman, Cik Serule keluar dari tempat persembunyian dengan membawa pakaian Sengeda yang telah berlumuran darah. Di tengah perjalanan menuju Umah Tujuh Ruang, Cik Serule bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang memprotes keputusan raja namun tidak berani membantahnya. Sesampainya di Umah tujuh Ruang tempat berdiamnya raja, Cik Serule menyerahkan pakaian Sengeda yang telah berlumuran darah sebagai bukti bahwa tugas membunuh Sengeda telah dilaksanakan. Melihat bukti tersebut Raja Lingga XIV merasa gembira, beliau yang hatinya penuh diliputi rasa iri dan dengki merasa puas musuhnya telah tiada.

Seusai menghadap raja, Cik Serule memohon izin untuk kembali ke rumahnya. Sebelum sampai ke rumahnya Cik Serule mampir ke tempat persembunyian Sengeda dengan membawa bahan-bahan kebutuhan hidup. Cik Serule berpesan kembali kepada Sengeda bahwa Sengeda harus tetap bersembunyi di tempat tersebut sampai dirinya kembali.

Di tempat persembunyian Sengeda hidup seorang diri. Berbagai aktivitas ia lakukan untuk mengusir kesepian. Namun, setelah cukup lama bersembunyi kesepian tetap menerpa Sengeda apalagi jika ia mengingat peristiwa kematian saudaranya Bener meriah.

Ketika kesepian itu tidak dapat terbendung lagi, Sengeda berniat meninggalkan tempat persembunyian, namun sebelum sampai niatnya itu terlaksana, Cik Serule tiba mengunjungi Sengeda di tempat persembunyian. Tanpa diduga oleh Sengeda sebelumnya, ternyata Cik Serule telah mempunyai rencana untuk dirinya. Cik Serule menyuruhnya untuk tinggal di kediaman Cik Serule. Selama tinggal di rumah Cik Serule Sengeda mengerjakan tugas menjaga kebun dan ternak milik Cik Serule. Selama mengerjakan tugasnya Sengeda bekerja sangat rajin. Melihat kerajinan dan kepatuhan Sengeda, Cik Serule merasa sayang dengannya. Oleh sebab itu Sengeda telah dianggap anak oleh Cik Serule.

Suatu hari dalam tidurnya Sengeda bertemu dengan saudaranya Bener meriah. Dalam mimpi tersebut Bener meriah memberi petunjuk agar Sengeda meminta izin pada Cik Serule untuk ikut mengiringi Cik Serule ke ibukota Kerajaan Aceh Darussalam. Sebagai bekal ke ibukota kerajaan Aceh Darussalam, Sengeda diperintahkan membawa sebilah pisau kecil yang sangat tajam dan sebilah upih betung yang terbagus dan terlebar.

Sesampai di ibukota Sengeda diharuskan mencari jalan agar dia dapat diizinkan memasuk ke dalam keraton Darul dunia. Pada hari persidangan Sengeda diperintahkan untuk duduk di Balai Gading (balai tempat istirahat raja-raja). Dalam mimpinya tersebut Bener meriah memerintahkan Sengeda melukis seekor gajah di upih betung dengan pisau kecil yang telah dibawa. Setelah selesai mainkanlah lukisan tersebut niscaya akan datang seorang putri menghampiri diri mu. Jika putri tersebut bertanya ukiran apakah itu, jawablah itu merupakan lukisan gajah putih yang cantik rupawan dan kuat. Jika ditanya keberadaan gajah putih tersebut jawablah berada di negeri Lingga dan jika Sultan bersedia menyuruhmu menangkap gajah putih tersebut, kamu sanggup melaksanakannya. Jangan takut aku akan selalu membantu mu. Demikianlah ucapan Bener meriah dalam mimpi Sengeda.

Terjaga dari mimpi tersebut, Sengeda berpikir dengan keras. Dia sadar bahwa apabila melaksanakan amanat Bener meriah dalam mimpinya itu, jika ketahuan maka nyawa Sengeda menjadi taruhannya. Selain itu juga keselamatan Cik Serule juga ikut terancam. Namun setelah mempertimbangkan masak-masak dan berdoa pada Allah s.w.t, Sengeda berteguh hati melaksanakan amanat Bener meriah.

Pada suatu hari terdengar rencana Cik Serule ke ibu kota kerajaan Aceh Darussalam sebagai utusan Raja Lingga menghadiri sidang tahunan. Mendengar rencana tersebut Sengeda teringat akan mimpinya, menghadaplah Sengeda pada Cik Surele dan memohon untuk diajak serta dalam rombongan Cik Serule ke ibukota kerajaan Aceh Darussalam. Mendengar permohonan tersebut Cik Serule mengabulkannya. Maka berangkatlah Sengeda beserta rombongan Cik Serule ke ibu kota kerajaan Aceh Darussalam.

Ketika telah berada di ibu kota kerajaan Aceh Darussalam, Sengeda berusaha mencari kesempatan untuk dapat masuk ke dalam keraton Darul Dunia. Ketika seluruh pembesar kerajaan Aceh Darussalam beserta utusan raja-raja taklukan sedang melaksanakan sidang, Sengeda berhasil masuk ke dalam keraton Darul dunia dan menuju Balai gading. Sesampai di sana ia memainkan lukisan gajah yang telah ia lukis di atas upih bambu yang telah ia persiapkan dari rumah. Pada saat memainkan lukisan tersebut, Sengeda kagum, karena pantulan cahaya matahari yang mengenai lukisan tersebut dan memantul kembali ke tembok keraton membuat lukisan gajah tersebut menjadi sangat indah. Sesuai dengan mimpinya, tidak berapa lama datanglah seorang putri yang ternyata salah seorang putri Sultan Aceh. Sang putri menanyakan gambar tersebut pada Sengeda. Diceritakan oleh Sengeda tentang gajah putih sesuai dengan petunjuk Bener meriah dalam mimpinya. Mendengar cerita Sengeda, hati Sang putri terpikat dan memohon pada ayahnya Sultan Aceh Darussalam untuk memerintahkan Cik Serule membawakan gajah putih.

Mendengar permintaan putrinya, Sultan Aceh memerintahkan Cik Serule untuk menangkap gajah putih yang dimaksud. Mendengar permintaan Sultan Aceh, Cik Serule bingung bukan kepalang karena dia tidak mengetahui pengetahuan sama sekali tentang gajah putih yang dimaksud. Mengetahui hal itu Sengeda menceritakan seluruh mimpinya pada Cik Serule dan menenangkan hati Cik Serule dengan menyatakan kesanggupannya untuk menangkap Gajah putih dan mempersembahkannya pada Sultan Aceh.

Setiba di Lingga, Cik Serule melaporkan perintah Sultan Aceh pada Raja Lingga XIV. Kemudian Raja Lingga XIV memerintahkan pada seluruh rakyat untuk membantu Cik Serule menangkap gajah putih.

Untuk menangkap gajah putih di rimba Gayo, Sengeda memohon pada Cik Serule mengadakan kenduri sekedarnya dan berdoa di makam saudaranya Bener meriah. Selain itu juga Sengeda meminta pada penduduk kampung yang akan ikut menangkap gajah putih untuk membawa berbagai macam alat musik untuk dimainkan setelah berdoa di makan Bener meriah. Mendengar permintaan Sengeda, hati Cik Serule merasa bingung tidak mengerti apa hubungan menangkap gajah putih dengan berdoa di makam Bener meriah. Namun karena keyakinannya terhadap Sengeda, Cik serule mengabulkannya.

Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah Sengeda bersama Cik serule dan rombongan menuju makam Bener meriah dengan membawa bahan makanan untuk kenduri serta tidak lupa membawa alat-alat kesenian.

Sesampainya di makam Bener meriah mereka berdoa pada Allah s.w.t agar niat mereka dapat terlaksana dengan baik. Selesai berdoa mereka pun melaksanakan kenduri sambil memainkan alat-alat kesenian yang telah mereka persiapkan. Di saat bersamaan, Sengeda memerintahkan beberapa orang yang tidak membawa alat musik untuk menari. Dengan alunan sedih, Sengeda menyanyikan lagu yang menceritakan kesedihannya ditinggal saudara kandungnya Bener meriah. Tari, syair lagu dan alunan musik yang sedih tersebut membentuk suatu rangkaian yang sampai saat ini dikenal sebagai “Tari Guel”.

Ketika mereka sedang asik menari dan memainkan musik, tiba dari arah rumpun bambu muncul seekor gajah putih yang besar dan cantik. Melihat hal itu Sengeda memerintahkan para penduduk untuk terus memainkan tarian tersebut dengan hati yang ikhlas. Mendengar suara alunan musik dan gerak tari yang ritmis tersebut gajah putih bagaikan tersihir. Sengeda dengan didampingi Cik serule menghampiri gajah putih yang telah jinak tersebut untuk menangkap dan mengikatnya.

Keberhasilan Sengeda dan Cik serule menangkap gajah putih membuat hati Raja Lingga XIV berbunga-bunga membayangkan hadiah yang akan ia terima. Tanpa menunggu lama raja memerintahkan Sengeda dan Cik Serule untuk mendampinginya mengantar gajah putih tersebut ke ibukota kerajaan Aceh Darussalam untuk dipersembahkan pada Sultan Aceh. Selama dalam perjalanan sekali-kali Cik Serule menepung tawari gajah putih tersebut agar tetap jinak.

Singkat cerita sampailah rombongan ke hadapan Sultan Aceh. Melihat gajah putihyang diinginkannya putri sultan merasa gembira hatinya. Atas keberhasilan tersebut sultan memberikan hadiah dalam upacara kebesaran. Sebelum acara penyerahan hadiah dilaksanakan, Raja Lingga XIV menghampiri gajah putih untuk memamerkan pada seluruh negeri bahwa dia telah berhasil menangkap gajah putih. Tanpa diduga, gajah putih tersebut mengamuk dan menyemprotkan Raja Lingga dengan air lumpur. Untung saja kejadian tersebut cepat diketahui oleh Sengeda dan Cik serule sehingga raja lingga dapat diselamatkan dari amukan gajah.



Pada hari pemeberian hadiah, Sultan Aceh yang bijaksana sangat tertarik akan kisah Sengeda yang telah berhasil menangkap gajah putih. Maka ditanya pula asal usul Sengeda. Memenuhi permintaan Sultan, Sengeda dengan didampingi Cik Serule dan Raja Lingga XIV menceritakan dengan sebenarnya asal usul Sengeda dan tidak lupa diceritakan pula peristiwa kematian saudara kandungnya Bener Meriah. Untuk memperkuat cerita Sengeda, sultan memerintahkan untuk menghadirkan ibu Sengeda. Setibanya di ruang sidang, ibu Sengeda menceritakan kembali asal-usul Sengeda. Mendengar cerita Sengeda dan ibunya, murka lah baginda pada Raja Lingga XIV yang begitu bengis telah memerintahkan algojo untuk membunuh saudara sendiri. Atas perbuatannya tersebut sultan memutuskan menghukum mati Raja Lingga XIV.

Demikianlah legenda Sengeda dan Gajah putih. Dari legenda inilah tari guel berasal. Begitulah sejarah dari cerita rakyat di Gayo, walaupun kebenaran secara ilmiah tidak bisa dibuktikan, namun kemudian Tari Guel dalam perkembangannya tetap mereka ulang cerita unik Sengeda, Gajah Putih dan sang Putri Sultan. Inilah yang kemudian dikenal temali sejarah yang menghubungkan kerajaan Linge dengan Kerajaan Aceh Darussalam begitu dekat dan bersahaja.

Penari pria tari Guel yang melambangkan gajah putih. (Photo : Zumara Kutarga)

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa tari guel tidak bisa terlepas dari legenda Sengeda dan gajah putih. Berbagai simbolisasi yang mewakili legenda tersebut terdapat pada tari guel. Bahkan dapat dikatakan bahwa tari guel merupakan reinkarnasi dari legenda tersebut.

Tari Guel dibagi dalam empat babakan baku. Terdiri dari babak Mu natap, Babak II Dep, Babak III Ketibung, Babak IV Cincang Nangka. Ragam Gerak atau gerak dasar adalah Salam Semah (Munatap ), Kepur Nunguk, Sining Lintah, Semer Kaleng (Sengker Kalang), Dah-Papan.

Sementara jumlah para penari dalam perkembangannya terdiri dari kelompok pria dan wanita berkisar antara 8-10 ( Wanita ), 2-4 ( Pria ). Jumlah penabuh biasanya minimal 4 orang yang menabuh Canang, Gong, Rebana, dan Memong.

Penari pria dalam setiap penampilannya menjadi primadona dan merupakan simbol yang mewakili tokoh-tokoh dalam legenda tersebut. Sengeda kemudian diperankan oleh Guru Didong yakni penari yang mengajak Beyi (Aman Manya ) atau Linto Baroe untuk bangun dari tempat persandingan (Pelaminan). Sedangkan Gajah Putih diperankan oleh Linto Baroe (Pengantin Laki-laki). Pengulu Mungkur, Pengulu Bedak diperankan oleh kaum ibu yang menaburkan breuh padee (beras padi) atau dikenal dengan bertih.

Tari Guel memang unik, tari tersebut mengandung unsur dan karakter perpaduan unsur keras lembut dan bersahaja. Bila para pemain benar-benar mengusai tarian ini, terutama peran Sengeda dan Gajah Putih maka bagi penonton akan merasakan ketakjuban luar biasa. Seolah-olah terjadinya pertarungaan dan upaya mempengaruhi antara Sengeda dan Gajah Putih. Upaya untuk menundukkan jelas terlihat, hingga kipasan kain kerawang Gayo di Punggung Penari seakan mengandung kekuatan yang luar biasa sepanjang tarian. Guel dari babakan ke babakan lainnya hingga usai selalu menawarkan uluran tangan seperti tarian sepasang kekasih ditengah kegundahan orang tuanya. Tidak ada yang menang dan kalah dalam tari ini, karena persembahan dan pertautan gerak dan tatapan mata adalah perlambang Cinta.

========

Sumber :ht*p://acehpedia.org/Legenda_Gajah_Puteh_di_Kerajaan_Aceh_Darussalam