Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2019

Putri Kandita
Di Posting Oleh : DONLOAD APLIKASI (MUJI)
Kategori : Cerita Rakyat Folk Tales Jawa Barat


Cerita Rakyat dari Bogor
Diceritakan kembali oleh Samsuni


Alkisah, di daerah Pakwan (kini Kota Bogor), Jawa Barat, tersebutlah seorang raja bernama Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yang bertahta di Kerajaan Pakuan Pajajaran. Ia adalah raja yang arif dan bijaksana. Sang Prabu juga mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita dan beberapa selir yang cantik-cantik. Dari hasil perkawinannya dengan sang permaisuri lahir seorang putri yang bernama Putri Kandita. 

Putri Kandita memiliki paras yang cantik melebihi kecantikan ibunya. Ia merupakan putri kesayangan Prabu Siliwangi. Ketika ia mulai dewasa, sifat arif dan bijaksana seperti yang dimiliki oleh sang ayah mulai muncul pada dirinya. Tidak mengherankan jika Prabu Siliwangi bermaksud mencalonkan Putri Kandita sebagai penggantinya kelak. Namun, rencana tersebut ternyata tidak disukai oleh para selir dan putra-putrinya yang lain. Oleh karena itu, mereka pun bersekongkol untuk mengusir Putri Kandita dan ibunya dari istana.

Suatu malam, para selir Prabu Siliwangi dan putra-putri mereka mengadakan pertemuan rahasia di dalam istana.

“Bagaimana cara menyingkirkan Putri Kandita dan permaisuri dari istana ini tanpa sepengetahuan Prabu?” tanya salah seorang selir.

“Kita harus berhati-hati karena jika Prabu mengetahui rencana ini, maka kita semua akan binasa,” ujar selir yang lain.

Sejenak, suasana pertemuan itu menjadi hening. Semuanya sedang berpikir keras untuk mencari cara yang paling tepat agar rencana mereka dapat terlaksana tanpa sepengetahuan Prabu Siliwangi.

“Sekarang aku tahu caranya,” sahut seorang selir yang lain memecah suasana keheningan.

“Apakah caramu itu?” tanya semua peserta rapat serentak.

“Aku mempunyai kenalan seorang dukun yang terkenal dengan kesaktian ilmu hitamnya. Dukun itu pasti mau membantu kita jika kita memberinya upah yang besar,” jawab selir itu.

Semua peserta rapat setuju dengan cara tersebut. Pada esok hari, para selir mengutus seorang dayang-dayang istana untuk menemui dukun itu di gubuknya di sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari istana. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, utusan itu kemudian menyerahkan sejumlah keping uang logam emas kepada sang dukun. Tanpa berpikir panjang, sang dukun pun langsung menyanggupi permintaan para selir tersebut.

Setelah utusan selir itu kembali ke istana, sang dukun segera melaksanakan tugasnya. Dengan ilmu yang hitam dimiliki, dukun itu menyihir Putri Kandita dan ibunya dengan penyakit kusta sehingga sekujur tubuh mereka yang semula mulus dan bersih, timbul luka borok dan mengeluarkan bau tidak sedap. Prabu Siliwingi heran melihat penyakit borok itu tiba-tiba menyerang putri dan permaisurinya secara bersamaan. Ia pun segera mengundang para tabib untuk mengobati penyakit tersebut.

Para tabib dari berbagai negeri sudah didatangkan, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkan penyakit Putri Kandita dan sang permaisuri. Bahkan, penyakit sang permaisuri semakin hari semakin parah dan menyebarkan bau busuk yang sangat menyengat. Tubuhnya pun semakin lemah karena tidak mau makan dan minum. Selang beberapa hari kemudian, sang permaisuri menghembuskan nafas terakhirnya.

Kepergian sang permaisuri benar-benar meninggalkan luka yang sangat dalam bagi seluruh isi istana, khususnya Prabu Siliwingi. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang diri. Satu-satunya harapan yang dapat mengobati kesedihannya adalah Putri Kandita. Namun harapan itu hanya tinggal harapan karena penyakit sang putri tak kunjung sembuh. Keadaan itu pun tidak disiasiakan oleh para selir dan putra-putrinya. Mereka bersepakat untuk menghasud Prabu Siliwangi agar segera mengusir Putri Kandita dari istana.

“Ampun, Baginda Prabu! Izinkanlah Hamba untuk menyampaikan sebuah saran kepada Baginda,” pinta seorang selir.

“Apakah saranmu itu, wahai selirku? Katakanlah,” jawab Prabu Siliwingi.

“Bagini Baginda. Kita semua sudah tahu bahwa keadaan penyakit Putri Kandita saat ini semakin parah dan sulit untuk disembuhkan. Jika sang putri dibiarkan terus tinggal di istana, Hamba khawatir penyakitnya akan membawa malapetaka bagi negeri ini,” hasud seorang selir.

Mulanya, Prabu Siliwangi merasa berat untuk menerima saran itu karena begitu sayangnya kepada Putri Kandita. Namun karena para selir terus mendesaknya, maka dengan berat hati ia terpaksa mengusir Putri Kandita dari istana. Dengan hati hancur, Putri Kandita pun meninggalkan istana melalui pintu belakang istana. Ia berjalan menuruti ke mana kakinya melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti. Setelah berhari-hari berjalan, Putri Kandita tiba di pantai selatan. putri Prabu Siliwingi yang malang itu bingung harus berjalan ke mana lagi. Di hadapannya terbentang samudera yang luas dan dalam. Tidak mungkin pula ia kembali ke istana.

“Ah, aku letih sekali. Lebih baik aku beristirahat dulu di sini,” keluh Putri Kandita seraya merebahkan tubuhnya di atas sebuah batu karang.

Sang Putri tampak begitu kelelahan sehingga dalam beberapa saat saja ia langsung tertidur. Dalam tidurnya, ia mendengar sebuah suara yang menegurnya.

“Wahai, Putri Kandita! Jika kamu ingin sembuh dari penyakitmu, berceburlah ke dalam lautan ini! Niscaya kulitmu akan pulih seperti sediakala,” ujar suara itu.

Putri Kandita pun cepat-cepat bangun setelah mendengar suara itu.

“Apakah aku bermimpi?” gumamnya sambil mengusap-usap matanya tiga kali.

Setelah itu, sang Putri mengamati sekelilingnya, namun tak seorang pun yang dilihatnya.

“Aku mendengar suara itu dengan sangat jelas. Tetapi kenapa tidak ada orang di sekitar sini? Wah, jangan-jangan ini wangsit,” pikirnya.

Cerita Rakyat dari Bogor
Diceritakan kembali oleh Samsuni

Meyakini suara itu sebagai sebuah wangsit, Putri Kandita pun menceburkan diri ke laut. Sungguh ajaib! Saat menyentuh air, seluruh tubuhnya yang dihinggapi penyakit kusta berangsur-angsur hilang hingga akhirnya kembali menjadi halus dan bersih seperti sediakala. Tidak hanya itu, putri kesayangan Prabu Siliwingi itu juga menjadi putri yang sakti mandraguna.

Meskipun telah sembuh dari penyakitnya, Putri Kandita enggan untuk kembali ke istana. Ia lebih memilih untuk menetap di pantai sebelah selatan wilayah Pakuan Pajajaran itu. Sejak menetap di sana, ia dikenal luas ke berbagai kerajaan yang ada di Pulau Jawa sebagai putri yang cantik dan sakti. Para pangeran dari berbagai kerajaan pun berdatangan untuk melamarnya. Menghadapi para pelamar tersebut, Putri Kandita mengajukan sebuah syarat yaitu dirinya bersedia dipersunting asalkan mereka sanggup mengalahkan kesaktiannya, termasuk bertempur di atas gelombang laut yang ada di selatan Pulau Jawa. Namun, jika kalah adu kesaktian itu, maka mereka harus menjadi pengikut Putri Kandita.

Dari sekian banyak pangeran yang beradu kesaktian dengan Putri Kandita, tak seorang pun dari mereka yang mampu mengalahkan kesaktian sang Putri. Dengan demikian, para pelamar tersebut akhirnya menjadi pengikut Putri Kandita. Sejak itulah, Putri Kandita dikenal sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan Pulau Jawa.


===========



Demikian cerita Putri Kandita dari daerah Bogor, Jawa Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang teraniaya seperti Putri Kandita akan ditolong oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Putri Kandita sebagai korban penganiayaan para selir Prabu Siliwingi dapat sembuh dari penyakit kusta berkat pertolongan Tuhan melalui wangsit yang diterimanya.

 Pesan moral lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang memiliki sifat iri hati dan dengki seperti para selir dapat melakukan kejahatan apa saja demi mencapai cita-citanya. Para selir tega mengusir Putri Kandita dari istana karena merasa iri terhadap sang Putri sebagai calon penerus tahta Kerajaan Pakuan Pajajaran. 

(Samsuni/sas/205/10-10)


source : Putri Kandita


Minggu, 21 Desember 2008

Majalengka
Di Posting Oleh : DONLOAD APLIKASI (MUJI)
Kategori : Cerita Rakyat Folk Tales Jawa Barat Legenda

Alkisah zaman dahulu ada suatu negeri aman dan makmur, murah sandang murah pangan, terkenal dengan nama Negeri Panyidagan. Ratu yang memerintah negeri ini sangat cantik bernama Ratu Ayu Panyidagan, ada juga yang.menyebut Ratu Ayu Rambut Kasih, dan ada juga yang menyebut Nyi Rambut Kasih saja.

Kecantikan Ratu Ayu Panyidagan ini tak ada bandingannya sehingga kalau dilukiskan dengan kata-kata oleh penyair ialah, badannya ramping sebagai pohon pinang, rambutnya sebagai mayang terurai, mukanya berseri sebagai bulan empat belas hari, alisnya sebagai bentuk taji, hidungnya mancung sebagai bunga melur, matanya sebagai bintang timur, telinganya sebagai kerang, bibirnya sebagai delima merekah, giginya sebagai dua barisan mutiara, dagunya sebagai lebah bergantung, jarinya sebagai duri Iandak, pepat kukunya sebagai bulan tiga hari, pahanya sebagai paha belalang, betisnya sebagai perut padi, tumitnya sebagai telur burung.

Menurut cerita dari mulut ke mulut bahwa ratu mendapat pujian Ratu Rambut Kasih ialah karena semua orang (rakyat negeri ini) tidak berani menatap wajah ratu yang cantik dan berwibawa itu, mereka hanya berani menatap bila ratu telah pergi membelakangi mereka. Mereka hanya dapat melihat badannya yang ramping dan rambutnya yang hitam bergelombang menutupi badannya. Rambut ratu yang indah itu menimbulkan rasa kasih setiap orang yang melihatnya sehingga semua orang memuji kecantikannya yang sesuai dengan tingkah lakunya yang ramah tamah dan baik budi bahasanya. Oleh sebab itu mereka memberi julukan Ratu Ayu Rambut Kasih. Selain itu, beliau mempunyai ilmu lahir dan ilmu batin, lagi pula beliau dapat meramalkan kejadian yang akan dialaminya.

Dalam pemerintahan Ratu Ayu Panyidagan yang adil dan bijaksana itu kesejahteraan rakyat terjamin, baik petani maupun pedagang merasa aman dan tentram menggarap pekerjaannya karena tak pernah ada pencuri dan perampok yang mengganggu kekayaannya. Pemerintahan Ratu Ayu Panyidagan dibantu oleh para patih yang terkenal dalam bidang kesejahteraan dan keamanan negara ialah Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur.

Pada suatu hari Ratu Ayu Panyidagan, mengadakan pertemuan di pendopo, yang dihadiri oleh para manteri dan para penggawa negara, bahkan rakyat pun boleh mendengarkan asal tidak mengganggu suasana perundingan itu.

Setolah semua undangan hadir, barulah Ratu Ayu Panyidagan ke luar dari Kaputren menuju ruang pendopo kemudian duduk di hadapan para menteri dan penggawa negara. Semua yang hadir tak ada yang berbicara, semuanya diam, semuanya menundukkan kepala tanda hormat dan takut menghadapi Ratu Ayu Panyidagan yang berwibawa itu.

Setelah suasana di pendopo itu tertib, kemudian sang ratu bersabda, "Para menteri dan para penggawa Negara Panyidagan yang hadir, sekarang sudah waktunya dan atas kehendak Sang Hiang, negara kita akan mendapat cobaan. Menurut wangsit yang kami terima, kelak kerajaan ini akan berubah. Oleh sebab itu, hadirin harus waspada dan siap siaga menghadapi malapetaka yang akan datang. Bila ada huru-hara di luar kerajaan, kalian harus cepat memusnahkannya jangan sampai musuh dapat masuk mengganggu ketertiban negara. Lindungilah rakyat dari segala bencana yang mengancam negeri kita. Tentramkan hati rakyat supaya mereka tentram mengerjakan tugas masing-masing dengan baik, para

petani tentram bertani supaya hasilnya akan lebih baik, dan para pedagang tentram berdagang jangan sampai dikejar-kejar oleh utang dan diganggu oleh pencuri atau perampok. Tapi kalau ada utusan dari negara lain yang akan bersahabat dan untuk kesejahteraan kita semua terimalah dengan baik dan ramah tamah. Mengerti ?"

"Yakseni, yakseni …," hadirin serempak menjawab.

Sang ratu bersabda lagi, "Sebentar lagi kami akan menerima tamu. Menurut ramalanku, orang yang datang tegap dan cakap, tetapi orang itu akan menimbulkan bencana bagi diri kami, hanya belum tahu bencana apa yang akan terjadi. Akan tetapi, semua rakyat Panyidagan tidak akan mendapat bencana itu, hanya akan berubah keyakinan dan kepercayaan, sesudah kerajaan ini lepas dari tangan kami. Nah sekian nasihat kami. Sekarang kalian boleh pergi meninggalkan pertemuan ini dan silakan melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing dengan aman dan tentram."

Terhadap semua nasihat ratu tak ada yang berani menentang-nya sebab mereka yakin bahwa semua ucapan ratu pasti terjadi. Demikian juga, Ki Gedeng Cigobang, Ki Dedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur menerima tugas menjaga negara. Setelah siap dan mengumpulkan segala perkakas,’kemudian mereka pergi ke sebe-lah utara, akan menjaga perbatasan negara. Di sana ketiga senapati itu terus membuat pondok penjaga. Dari tempat ini mereka dapat melihat keseluruh penjuru dengan jelas. Baiksiang maupun malam mereka dapat melihat siapa yang lewat melalui jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Setiap orang yang akan masuk ke negeri ini, harus menyeberangi sungai dulu karena hanya tempat itulah satu-satunya jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Tempat penjagaan Ki Gedeng Cigobang itu, sekarang terkenal dengan nama Pajagan (berasal dari kata penjagaan).

Pada suatu waktu ketka Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur sedang asyik berbincang-bincang, tidak diketahui dari mana datangnya, tahu-tahu kelihatan seorang pe-muda sedang menyeberangi sungai, akan masuk ke Negeri Panyidagan. Alangkah terkejut melihat kejadian itu. Mereka sudah meramalkan akan terjadi apa-apa kalau pemuda itu tidak tertangkap.

Ketiga senapati itu mejnanggil orang yang sedang menyeberangi sungai, "Hai … orang yang sedang menyeberang, siapa namamu dan mengapa kamu berani menyeberangi, tanpa ijin kami ?"

Yang sedang menyeberang itu tidak menghiraukan teriakan ketiga senapati itu, ia terus menyeberang sampai ketepi sungai itu, dan pergi menjauhi ketiga senapati itu. Ketiga senapati sangat marah melihat kelakuan pemuda itu, kemudian mereka lari mengejar orang itu dengan maksud akan mengeroyok karena orang itu sudah berani memasuki daerah penjagaan tanpa ijin mereka.

Orang yang menyeberangi sungai itu ialah utusan dari negeri Sinuhun Jati Cirebon, dengan maksud akan minta pertolongan Ratu Ayu Panyidagan. la akan minta buah maja yang ditanam oleh Ratu Ayu Panyidagan Untuk mengobati rakyat Sinuhun Jati Cirebon karena pada waktu itu di daerah Cirebon sedang berjangkit wabah penyakit yang harus diobati oleh godogan buah maja yang banyak terdapat di daerah Panyidagan. Utusan itu bernama Pangeran Muhamad. Dia selain mendapat tugas mencari buah maja, juga mendapat tugas mengislamkan orang-orang yang masih menyem-bah berhala.

Kita kembali menceriterakan Pangeran Muhamad yang sedang dikejaroleh ketiga senapati itu. la lari tunggang-langgang menuju ke arah barat. Ketiga senapati itu berusaha menangkapnya dan akan menyerahkan kepada ratunya. Tetapi senapati itu kalah cepat, buronannya makin jauh. Akhirnya mereka menggunakan siasat baru dengan-jalan mengepung Pangeran Muhamad dari beberapa penjuru. Kemudian seorang mengepung dari sebelah utara, yang seorang lagi dari sebelah barat, dan yang seorang lagi dari sebelah selatan. Akhirnya Pangeran Muhamad terkepung juga. Melihat keadaan dirinya sudah terkepung, kemudian Pangeran Muhamad masuk dan bersembunyi ke dalam suatu rumpun yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana ia tepekur minta perlindungan Tuhan Yang Mahakuasa dengan mengucapkan syahadat tiga kali dan meren-takkan kakinya. Tanah yang diinjak itu belah dan membentuk suatu lubang, kemudian Pangeran Muhamad masuk ke dalam lubang itu. Setelah Pangeran Muhamad berada di dalam lubang itu, kemudian tanah yang retak itu tertutup kembali seperti sedia kala.

Ketiga senapati itu sudah sampai ke rumpun tempat persembunyian Pangeran Muhamad, mereka bolak-balik kian kemari mencarinya, setiap rumpun ditebas, setiap pohon ditebang tak ada satu rumput pun yang disisakannya, tetapi orang itu belum dijumpai, menghilang tanpa bekas. Ketiga senapati itu sudah putus asa, semua daya upaya sudah dilaksanakan, tetapi masih juga belum ber-hasil. Akhirnya mereka duduk bertekuk lutut memikirkan apa yang harusdikerjakan dan bagaimana melaporkannya kepada ratu. Setelah berunding, mereka pergi bersama-sama menuju kedaleman Panyidagan.

Kemudian Pangeran Muhamad yang ada di dalam tanah berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, mohon diberi kekuatan dapat keluar dari dalam tanah. la mencoba ke luar dari dalam tanah dengan jalan mengorek dan melubanginya, lama kelamaan dapat ke luar melalui lubang dalam tanah itu dan munculkembali di suatu tempat, yang sekarang terkenal dengan nama Kampung Munjul, (rupanya terkenal ketika Pangeran Muhamad punjul/muncul lagi dari dalam tanah).

Penglihatan Pangeran Muhamad masih tetap gelap, segelap di dalam tanah walaupun ia sudah berada di atas tanah. Terus Pangeran Muhamad melanjutkan perjalanan menuju ke tempat da-tangnya cahaya, makin lama makin mendekati cahaya yang menyi-nari jalan itu dan akhirnya cahaya itu menghilang. Setelah diselidiki ternyata cahaya yang memancar itu ke luar dari "supa lumar" yang ada pada pohon-pohon jati yang berjejer sepanjang jalan itu. Kemudian Pangeran Muhamad memberi nama tempat ini Jatipamor yaitu kebun jati yang berpamor atau bercahaya.

Sekarang kita kembali menceritakan ketiga senapati yang sedang mencari Pangeran Muhamad. Mereka sudah ada di kadaleman akan melaporkan kejadian itu kepada Ratu Ayu Panyidagan. Mereka duduk pada bangku sambil membicarakan buronan yang hilang. Sedang asyik bercakap-cakap, Ratu Panyidagan datang ke pendopo menuju ketiga senapati yang merundukkan kepala karena malu dan bingung mencari kata-kata yang tepat untuk bahan laporan.

Kemudian Ratu Ayu Panyidagan bersabda, "Hai para senapati! Mengapa kalian ada di sini ? Mengapa kalian tidak melaksanakan tugas menjaga negara, kalau-kalau ada orang yang masuk ke kerajaan tanpa ijin kami ?"

"Ya tuanku, hamba datang dari perbatasan negara akan melaporkan bahwa kemarin ketika hamba bertiga sedang menjaga perbatasan, tiba-tiba ada orang yang sedang menyeberangi sungai dekat perbatasan. Hamba bertiga menegurnya, tetapi orang itu tidak mau menjawab, bahkan ia lari tunggang langgang. Hamba bertiga mengejar dan mengepungnya, kemudian ia lari ke balik rumpun dan menghilang tanpa bekas. Semua rumpun telah hamba tebas sampai tak ada satu rumput pun yang tertinggal."

"Kami tak percaya terhadap berita itu. Sekarang kalian harus mencari orang itu sampai dapat, dan bawa ke mari. Sebelum ter-tangkap, kalian tidak boleh kembali. Pergilah sekarang juga dan

tangkap hidup-hidup."

Ketiga orang itu pergi meninggalkan pendopo akan mencari buronan yang belum tertangkap itu. Mereka pergi lagi ke tempat Pangeran Muhamad menghilang dan mengubbrak-abrik tempat

itu, tetapi masih tetap belum dijumpainya. Sebenarnya Pangeran Muhamad sudah tidak ada di tempat itu, ia sudah sampai ke daerah Panyidagan.

Hutan dijelajahi, gua - gua dimasuki, akhirnya sampai ke tempat Pangeran Muhamad sedang beristirahat; yaitu di kebun jati yang p’enuh dengan "supa lumar jamur yang nampak pada kayu jati dengan mengeluarkan sinar di waktu malam. Mereka bergembira karena dari jauhterlihat seseorang sedang berjalan menuju kejalan Panyidagan. Ketiga senapati itu sudah siap siaga akan menangkap-nya. Mereka berjalan sambil membungkukkan badannya supaya buronan itu tidak melarikan diri atau menghilang lagi. Setelah de-kat, mereka serentak inenangkapnya. Kernudian diikatnya dan di-bawa ke kaputren.

Setelah sampai ke pendopo terus disuruh duduk di depan kursi Ratu Ayu Panyidagan, ditunggui oleh Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur, sedangkan Ki Gedong Cigobang pergi menghadap Ratu Ayu Panyidagan akan melaporkan bahwa buronan itu sudah ditangkap.

Baru saja sampai ke halaman kaputren, Ratu Ayu Pnyidagan sudah ke luar dan bersabda, "Lepaskan dan biarkan orang itu beristirahat dulu. Perlakukan orang itu seperti kalau kamu menerima tamu kami !"

Ki Gedeng Cigobang tidak berkata apa-apa, ia kembali lagi ke pendopo akan melaksanakan perintah ratu.

Pangeran Muhamad disuruh beristirahat dan mandi dulu sebelum menghadap ratu. Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur menyediakan makanan dan minuman. Setelah itu kemudian Pangeran Muhamad disuruh menghadap ke kaputren.

Waktu Pangeran Muhamad sedang berjalan menuju keputern, Ratu Ayu Panyidagan memperhatikan dari jendeia. Beliau terpesona melihat pemuda yang gagah dan cakap itu sehingga timbul rasa berahi ingin dipersunting oleh pemuda itu.

Setelah Pangeran Muhamad berada di hadapannya kemudian Ratu Ayu Panyidagan bertanya, "Hai pemuda, kamu berasai dari daerah mana? Mengapa kamu berani masuk ke negara ini, dan apa maksudmu datang kemari’?"

"Hamba ini berasai dari Cirebon. Hamba datang ke sini diutus oleh Sunuhun Jati, mencari buah maja yang ada di daerah kerajaan Panyidagan untuk mengobati rakyat kerajaan Cirebon yang terkena wabah penyakit demam. Oleh sebab itu. mudah-mudahan tuan hamba bersedia menolong rakyat kerajaan yang sedang menderita sakit demam itu, dan mengijinkan hamba membawa buah maja yang ada di daerah tuan hamba", yang ada di daerah tuan hamba." "Hanya itu permintaanmu ?" "Ya tuanku, hanya itulah permohonan hamba ini !" "Baiklah akan kami penuhi permintaanmu ini, bahkan semua kebun maja dan seluruh daerah Panyidagan akan menjadi milikmu, asal kamu memenuhi syarat ini."

"Ya tuanku, apa yang menjadi syaratnya ?" "Syaratnya sangat mudah, coba dengarkan ! Kami ini seorang ratu yang termasyhur dan dihormati oleh semua rakyat Panyidagan, para menteri, patih, serta para penggawa kami semuanya sangat setia. Hanya ada satu yang belum terpenuhi oleh diri kami. Kami ingin mempunyai turunan untuk melanjutkan kerajaan Panyidagan ini. Pilihan yang paling sesuai untuk menjadi suami kami, hanyalah engkau seorang diri. Nah itulah syaratnya ! Bagaimana, Apakah dapat kamu laksanakan ?.

"Ampun tuan hamba, syarat ini terlalu berat. Bukan tidak meng-agumi kecantikan tuan putri dan menurut perasaan hamba tidak ada yang tidak tertarik oleh kecantikan tuanku. Bukan hamba me-nolak anugerah tuan putri ini, hanya ada rintangan yang sangat berat yaitu hamba ini sudati punya istri. Dan lagi menurut agama hamba tidak baik mencintai orang yang sudah punya isteri."

Sesudah Ratu Ayu Panyidagan mendengar jawaban Pangeran Muhamad, beliau sangat murka ditolak oleh pemuda itu.

"Beliau berteriak memanggil patih." Patih tangkap orang ini, masukkan ke dalam penjara, jangan sampai dapat kembali ke Cirebon. Obat yang berupa buah maja tidak dapat dimilikinya dan dibawanya ke Cirebon, bahkan kebunnya pun kuhancurkan sampai akar-akarnya."

Kemudian pergilah Ratu Panyidagan ke dalam kaputren. Tidak berapa lama langit mendung, makin lama makin gelap, dan turun-lah hujan yang sangat derasnya, sehingga orang orang porak-poranda masuk ke rumah masing-masing karena merasatakutoleh hujan yang sangat deras itu.

Keesokan harinya langit cerah dan matahari bersinar menyinari alam semesta. Rakyat Panyidagan pergi akan mencari naf kah untuk keperluan sehari-hari. Semua orang terpaku melihat keadaan daerah Panyidagan yang berubah, kaputren menghilang beserta Ratu Panyidagan menghilang ke "marcapada". Kebun maja yang meng-himau itu hilang tanpa bekas. Semua rakyat ribut sambil berteriak,

"Gusti ratu menghilang, maja…………. langka, maja……… langka, majalangka……. !"

Sejak itu timbul sebutan majalangka, yang sekarang terkenal dengan nama Majalengka.

Kemudian Pangeran Muhamad yang diutus Sinuhun Jati men-cari buah maja, tidak berhasil karena buah maja sudah tidak ada, terus ia bertapa di gunung Haur sampai meninggal. Jenazahnya dikebumikan di sana. Sejak itu Gunung Haur terkenal dengan nama Margatapa.

Hanya sekian cerita asal mula Majalengka.

(Sumber: Cerita Rakyat Daerah Jawa Barat - Departemen Pendidikan dan Kebudayaan)

Nyai Anteh Sang Penunggu Bulan
Di Posting Oleh : DONLOAD APLIKASI (MUJI)
Kategori : Cerita Rakyat Folk Tales Jawa Barat

Waktu kecil dulu ibuku sering bercerita bahwa jika kita pergi bulan, kita bisa bertemu dengan Nyai Anteh dan kucingnya. Kita bisa melihat bayangannya kalau bulan sedang purnama. Dulu aku bingung kenapa Nyai Anteh bisa terbang ke bulan. Nah inilah ceritanya..

**************

Nyi Anteh Pada jaman dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Pakuan. Pakuan adalah kerajaan yang sangat subur dan memiliki panorama alam yang sangat indah. Rakyatnya pun hidup damai di bawah pimpinan raja yang bijaksana. Di dalam istana ada dua gadis remaja yang sama-sama jelita dan selalu kelihatan sangat rukun. Yang satu bernama Endahwarni dan yang satu lagi bernama Anteh. Raja dan Ratu sangat menyayangi keduanya, meski sebenarnya kedua gadis itu memiliki status sosial yang berbeda. Putri Endahwarni adalah calon pewaris kerajaan Pakuan, sedangkan Nyai Anteh adalah hanya anak seorang dayang kesayangan sang ratu. Karena Nyai Dadap, ibu Nyai Anteh sudah meninggal saat melahirkan Anteh, maka sejak saat itu Nyai Anteh dibesarkan bersama putri Endahwarni yang kebetulan juga baru lahir. Kini setelah Nyai Anteh menginjak remaja, dia pun diangkat menjadi dayang pribadi putri Endahwarni.

“Kau jangan memanggilku Gusti putri kalau sedang berdua denganku,” kata putri. “Bagiku kau tetap adik tercintaku. Tidak perduli satatusmu yang hanya seorang dayang. Ingat sejak bayi kita dibesarkan bersama, maka sampai kapan pun kita akan tetap bersaudara. Awas ya! Kalau lupa lagi kamu akan aku hukum!”
“Baik Gust…..eh kakak!” jawab Nyai Anteh.
“Anteh, sebenarnya aku iri padamu,” kata putri.
“Ah, iri kenapa kak. Saya tidak punya sesuatu yang bisa membuat orang lain iri,” kata Anteh heran.
“Apa kau tidak tahu bahwa kamu lebih cantik dariku. Jika kamu seorang putri, pasti sudah banyak pangeran yang meminangmu,” ujar putri sambil tersenyum.
“Ha ha ha.. kakak bisa saja. Mana bisa wajah jelek seperti ini dibilang cantik. Yang cantik tuh kak Endah, kemarin saja waktu pangeran dari kerajaan sebrang datang, dia sampai terpesona melihat kakak. Iya kan kak???” jawab Anteh dengan semangat.
“Ah kamu bisa saja. Itu karena waktu itu kau memilihkan baju yang cocok untukku. O ya kau buat di penjahit mana baju itu?” tanya putri.
“Eeee…itu…itu…saya yang jahit sendiri kak.” jawab Anteh.
“Benarkah? Wah aku tidak menyangka kau pandai menjahit. Kalau begitu lain kali kau harus membuatkan baju untukku lagi ya. Hmmmm…mungkin baju pengantinku?” seru putri.
“Aduh mana berani saya membuat baju untuk pernikahan kakak. Kalau jelek, saya pasti akan dimarahi rakyat,” kata Anteh ketakutan.
“Tidak akan gagal! Kemarin baju pesta saja bisa…jadi baju pengantin pun pasti bisa,” kata putri tegas.

Suatu malam ratu memanggil putri Endahwarni dan Nyai Anteh ke kamarnya.
“Endah putriku, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan,” kata ratu.
“Ya ibu,” jawab putri.
“Endah, kau adalah anakku satu-satunya. Kelak kau akan menjadi ratu menggantikan ayahmu memimpin rakyat Pakuan,” ujar ratu. “Sesuai ketentuan keraton kau harus memiliki pendamping hidup sebelum bisa diangkat menjadi ratu.”
“Maksud ibu, Endah harus segera menikah?” tanya putri.
“ya nak, dan ibu juga ayahmu sudah berunding dan sepakat bahwa calon pendamping yang cocok untukmu adalah Anantakusuma, anak adipati dari kadipaten wetan. Dia pemuda yang baik dan terlebih lagi dia gagah dan tampan. Kau pasti akan bahagia bersamanya,” kata ratu. “Dan kau Anteh, tugasmu adalah menjaga dan menyediakan keperluan kakakmu supaya tidak terjadi apa-apa padanya.”
“Baik gusti ratu,” jawab Anteh.

Malam itu putri Endahwarni meminta Nyai Anteh untuk menemaninya.
“Aku takut sekali Anteh,” kata putri dengan sedih. “Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku?”
“Kakak jangan berpikiran buruk dulu,” hibur Anteh. “Saya yakin gusti Raja dan Ratu tidak akan sembarangan memilih jodoh buat kakak. Dan pemuda mana yang tidak akan jatuh hati melihat kecantikan kakak. Ah sudahlah, kakak tenang dan berdoa saja. Semoga semuanya berjalan lancar.”

Suatu pagi yang cerah, Anteh sedang mengumpulkan bunga melati untuk menghias sanggul putri Endahwarni. Anteh senang menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu saling berebut bunga. Dia mulai bersenandung dengan gembira. Suara Anteh yang merdu terbang tertiup angin melewati tembok istana. Saat itu seorang pemuda tampan sedang melintas di balik tembok taman istana. Dia tepesona mendengar suara yang begitu merdu. Ternyata pemuda itu adalah Anantakusuma. Dia sangat sakti, maka tembok istana yang begitu tinggi dengan mudah dilompatinya. Dia bersembunyi di balik gerumbulan bunga, dan tampaklah olehnya seorang gadis yang sangat cantik. Anantakusuma merasakan dadanya bergetar, “alangkah cantiknya dia, apakah dia putri Endahwarni calon istriku?” batinnya. Anantakusuma keluar dari persembunyiannya. Anteh terkejut ketika tiba-tiba di hadapannya muncul pemuda yang tidak dikenalnya.
“Siapa tuan?” tanya Anteh.
“Aku Anantakusuma. Apakah kau…..”
Belum sempat Anantakusuma bertanya seseorang memanggil Anteh. “Anteh!!! Cepat!!! Putri memanggilmu!” kata seorang dayang.
“Ya. Saya segera datang. Maaf tuan saya harus pergi,” kata Anteh yang langsung lari meninggalkan Anantakusuma. “Dia ternyata bukan Endahwarni,” pikir Anantakusuma. “Dan aku jatuh cinta padanya. Aku ingin dialah yang jadi istriku.”

Beberapa hari kemudian, di istana terlihat kesibukan yang lain daripada biasanya. Hari ini Adipati wetan akan datang bersama anaknya, Anantakusuma, untuk melamar putri Endahwarni secara resmi. Raja dan Ratu menjamu tamunya dengan sukacita. Putri Endahwarni juga tampak senang melihat calon suaminya yang sangat gagah dan tampan. Lain halnya dengan Anantakusuma yang terlihat tidak semangat. Dia kecewa karena ternyata bukan gadis impiannya yang akan dinikahinya.

Tibalah saat perjamuan. Anteh dan beberapa dayang istana lainnya masuk ke ruangan dengan membawa nampan-nampan berisi makanan.
“Silahkan mencicipi makanan istimewa istana ini,” kata Anteh dengan hormat.
“Terima kasih Anteh, silahkan langsung dicicipi,” kata Raja kepada para tamunya.
Anantakusuma tertegun melihat gadis impiannya kini ada di hadapannya. Kerongkongannya terasa kering dan matanya tak mau lepas dari Nyai Anteh yang saat itu sibuk mengatur hidangan. Kejadian itu tidak luput dari perhatian putri Endahwarni. Pahamlah ia bahwa calon suaminya telah menaruh hati pada gasis lain, dan gadis itu adalah Anteh. Putri Endahwarni merasa cemburu, kecewa dan sakit hati. Timbul dendam di hatinya pada Anteh. Dia merasa Antehlah yang bersalah sehinggga Anantakusuma tidak mencintainya.

Setelah perjamuan selesai dan putri kembali ke kamarnya, Anteh menemui sang putri.
“Bagaimana kak? Kakak senang kan sudah melihat calon suami kakak? Wah ternyata dia sangat tampan ya?” kata Anteh.
Hati putri Endahwarni terasa terbakar mendengar kata-kata Anteh. Dia teringat kembali bagaimana Anantakusuma memandang Anteh dengan penuh cinta.
“Anteh, mulai saat ini kau tidak usah melayaniku. Aku juga tidak mau kau ada di dekatku. Aku tidak mau melihat wajahmu,” kata putri Endahwarni.
“A..apa kesalahanku kak? Kenapa kakak tiba-tiba marah begitu?” tanya Anteh kaget.
“Pokoknya aku sebal melihat mukamu!” bentak putri. “Aku tidak mau kau dekat-dekat denganku lagi…Tidak! Aku tidak mau kau ada di istana ini. Kau harus pergi dari sini hari ini juga!”
“Tapi kenapa kak? Setidaknya katakanlah apa kesalahanku?” tangis Anteh.
“Ah jangan banyak tanya. Kau sudah mengkianatiku. Karena kau Anantakusuma tidak mencintaiku. Dia mencintaimu. Aku tahu itu. Dan itu karena dia melihat kau yang lebih cantik dariku. Kau harus pergi dari sini Anteh, biar Anantakusuma bisa melupakanmu!” kata putri.
“Baiklah kak, aku akan pergi dari sini. Tapi kak, sungguh saya tidak pernah sedikitpun ingin mengkhianati kakak. Tolong sampaikan permohonan maaf dan terima kasih saya pada Gusti Raja dan Ratu.”
Anteh beranjak pergi dari kamar putri Endahwarni menuju kamarnya lalu mulai mengemasi barang-barangnya. Kepada dayang lainnya dia berpesan untuk menjaga putri Endahwarni dengan baik.

Nyai Anteh berjalan keluar dari gerbang istana tanpa tahu apa yang harus dilakukannya di luar istana. Tapi dia memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ibunya. Anteh belum pernah pergi kesana, tapi waktu itu beberapa dayang senior pernah menceritakannya. Ketika hari sudah hampir malam, Anteh tiba di kampung tempat ibunya dilahirkan. Ketika dia sedang termenung memikirkan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba seorang laki-laki yang sudah berumur menegurnya.
“Maaf nak, apakah anak bukan orang sini?” tanyanya.
“Iya paman, saya baru datang!” kata Anteh ketakutan.
“Oh maaf bukan maksudku menakutimu, tapi wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Wajahmu mirip sekali dengan kakakku Dadap,”
“Dadap? Nama ibuku juga Dadap. Apakah kakak paman bekerja di istana sebagai dayang?” tanya Anteh.
“Ya….! Apakah….kau anaknya Dadap?” tanya paman itu.
“Betul paman!” jawab Anteh.
“Oh, kalau begitu kau adalah keponakanku. Aku adalah pamanmu Waru, adik ibumu,” kata paman Waru dengan mata berkaca-kaca.
“Benarkah? Oh paman akhirnya aku menemukan keluarga ibuku!” kata Anteh dengan gembira.
“Sedang apakah kau disini? Bukankah kau juga seorang dayang?” tanya paman Waru.
“Ceritanya panjang paman. Tapi bolehkah saya minta ijin untuk tinggal di rumah paman. Saya tidak tahu harus kemana,” pinta Anteh.
“Tentu saja nak, kau adalah anakku juga. Tentu kau boleh tinggal di rumahku. Ayo kita pergi!” kata paman Waru.

Sejak saat itu Anteh tinggal di rumah pamannya di desa. Untuk membantu pamannya, Anteh menerima pesanan menjahit baju. Mula-mula Anteh menjahitkan baju-baju tetangga, lama-lama karena jahitannya yang bagus, orang-orang dari desa yang jauh pun ikut menjahitkan baju mereka kepada Anteh. Sehingga ia dan keluarga pamannya bisa hidup cukup dari hasilnya menjahit.
Bertahun-tahun telah berlalu. Anteh kini sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Suatu hari di depan rumahnya berhenti sebuah kereta kencana dan banyak sekali pengawal yang menunggang kuda. Begitu pemilik kereta kencana itu melongokkan kepalanya, Anteh menjerit. Ternyata itu adalah putri Endahwarni. Putri Endahwarni turun dari kereta dan langsung menangis memeluk Anteh.
“Oh Anteh, sudah lama aku mecarimu! Kemana saja kau selama ni? Kenapa tidak sekalipun kau menghubungiku? Apakah aku benar-benar menyakiti hatimu? Maafkan aku Anteh. Waktu itu aku kalap, sehingga aku mengusirmu padahal kau tidak bersalah. Maafkan aku…” tangis putri.
“Gusti…jangan begitu. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuatmu gusar,” kata Anteh.
“Tidak. Akulah yang bersalah. Untuk itu Anteh, kau harus ikut denganku kembali ke istana!” pinta putri.
“Tapi putri aku sekarang punya suami dan anak. Saya juga bekerja sebagai penjahit. Jika saya pergi, mereka akan kehilangan,” jawab Anteh.
“Suami dan anak-anakmu tentu saja harus kau bawa juga ke istana,” kata putri sambil tertawa. “Mengenai pekerjaanmu, kau akan kuangkat sebagai penjahit istana. Bagaimana? Kau tidak boleh menolak, ini perintah!”

Akhirnya Anteh dan keluarganya pindah ke istana. Putri Endahwarni telah membuatkan sebuah rumah di pinggir taman untuk mereka tinggal. Namun Anteh selalu merasa tidak enak setiap bertemu dengan pangeran Anantakusuma, suami putri Endahwarni. Pangeran Anantakusuma ternyata tidak pernah melupakan gadis impiannya. Kembalinya Anteh telah membuat cintanya yang terkubur bangkit kembali. Mulanya pangeran Anantakusuma mencoba bertahan dengan tidak memperdulikan kehadiran Anteh. Namun semakin lama cintanya semakin menggelora.

Hingga suatu malam pangeran Anantakusuma nekat pergi ke taman istana, siapa tahu dia bisa bertemu dengan Anteh. Benar saja. Dilihatnya Anteh sedang berada di beranda rumahnya, sedang bercanda dengan Candramawat, kucing kesayangannya sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama. Meski kini sudah berumur, namun bagi pangeran Anantakusuma, Anteh masih secantik dulu saat pertama mereka bertemu. Perlahan-lahan didekatinya Anteh.
“Anteh!” tegurnya.
Anteh terkejut. Dilihatnya pangeran Antakusuma berdiri di hadapannya.
“Pa..pangeran? kenapa pangeran kemari? Bagaimana kalau ada orang yang melihat?” tanya Anteh ketakutan.
“Aku tidak perduli. Yang penting aku bisa bersamamu. Anteh tahukah kau? Bahwa aku sangat mencintaimu. Sejak kita bertemu di taman hingga hari ini, aku tetap mencintaimu,” kata pangeran.
“Pangeran, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau adalah suami putri Endahwarni. Dia adalah kakak yang sangat kucintai. Jika kau menyakitinya, itu sama saja kau menyakitiku,” kata Anteh sambil memeluk Candramawat.
“Aku tidak bisa… Aku tidak bisa melupakanmu! Kau harus menjadi milikku Anteh! Kemarilah biarkan aku memelukmu!” kata pangeran sambil berusaha memegang tangan Anteh.
Anteh mundur dengan ketakutan. “Sadarlah pangeran! Kau tidak boleh mengkhianati Gusti putri.”
Namun pangeran Ananta kusuma tetap mendekati Anteh.

Anteh yang ketakutan berusaha melarikan diri. Namun pangeran Anantakusuma tetap mengejarnya.
“Oh Tuhan, tolonglah hambaMu ini!” doa Anteh, “Berilah hamba kekuatan untuk bisa lepas dari pangeran Anantakusuma. Hamba tahu dia sangat sakti. Karena itu tolonglah Hamba. Jangan biarkan dia menyakiti hamba dan kakak hamba!”
Tiba-tiba Anteh merasa ada kekuatan yang menarik tubuhnya ke atas. Dia mendongak dan dilihatnya sinar bulan menyelimutinya dan menariknya. Pangeran Anantakusuma hanya bisa terpana menyaksikan kepergian Anteh yang semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang bersama sinar bulan yang tertutup awan.

Visit Cute-Spot.com!Sejak saat itu Nyai Anteh tinggal di bulan, sendirian dan hanya ditemani kucing kesayangannya. Dia tidak bisa kembali ke bumi karena takut pangeran Anantakusuma akan mengejarnya. Jika rindunya pada keluarganya sudah tak dapat ditahan, dia akan menenun kain untuk dijadikan tangga. Tapi sayang tenunannya tidak pernah selesai karena si kucing selalu merusaknya. Kini jika bulan purnama kita bisa melihat bayangan Nyai Anteh duduk menenun ditemani Candramawat. Begitulah kisah Nyai Anteh sang penunggu bulan.
Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/dong%20indo/anteh.html

Prabu Panggung Keraton
Di Posting Oleh : DONLOAD APLIKASI (MUJI)
Kategori : Cerita Rakyat Folk Tales Jawa Barat Legenda

Kerajaan Dayeuh Manggung Masanggrahan adalah sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh raja bernama Prabu Panggung Keraton. Meski kecil namun kerajaan ini sangat makmur dan rakyatnya terjamin kesejahteraannya. Sang prabu memiliki seorang adik perempuan yang sangat cantik bernama Putri Rarang Purbaratna. Masyarakat Dayeuh Manggung meyakini bahwa Putri mereka adalah titisan bidadari karena Putri Rarang Purbaratna memiliki paras yang sangat jelita. Kecantikannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Rambutnya sehitam malam dan panjang bak mayang terurai. Tubuhnya tinggi semampai dan dipercantik dengan kulit yang seperti mutiara. Matanya bening dan selalu berbinar seperti bintang. Alisnya hitam melengkung seperti busur. Hidungnya mancung dan bibirnya semerah delima. Kecantikannya semakin sempurna dengan sikap sang putri yang baik hati dan selalu menebar senyumnya yang menawan.

Namun prabu Panggung Keraton sangat khawatir karena hingga usianya yang sudah menginjak remaja, putri Rarang Purbaratna belum juga mendapatkan jodoh. Maka suatu hari prabu Panggung Keraton memanggil adik kesayangannya.
"Rayi putri, ada yang ingin kakang tanyakan kepada Rayi. Hal ini menyangkut masa depan Rayi. Dan kakang harap rayi mau berterus terang pada kakang," kata sang prabu.
"Mengenai apa kakang? " tanya putri.
"Rayi...Rayi sekarang sudah remaja. Dsn kakang merasa sudah saatnya rayi mendapatkan jodoh. Kalau kakang boleh tahu, sudahkah ada pemuda pilihan hatimu?" tanya prabu.
"Ampun kakang. Rayi memang sudah lama memikirkan hal ini, namun memang rayi belum tahu siapa yang akan menjadi jodoh rayi. Bagi rayi tidak soal siapa yang akan menjadi pendamping rayi. Asalkan dia bisa memenuhi persyaratan rayi, maka rayi akan menerimanya apa adanya." tutur putri.
"Hmmm...persyaratan apa rayi?" tanya prabu.
"Syaratnya hanyalah menjelaskan teka-teki dari rayi!" kata putri.
"Apa bunyi teka-tekinya?" tanya prabu.
"Begini:
Teras kangkung hati bitung
Bekas itik dalam lubuk
Bekas angsa pada bantar
Bekas semut di atas batu
Daun padi kering menjarum
Sisir kecil tanduk kucing
Siisr besar tanduk kuda
Kemben layung kasunten
Berhiaskan bianglala
Tulis langit gurat mega
Panjangnya seputar jagat
Intan sebesar buah labu...

Begitulah bunyinya" kata putri.

Keesokan harinya prabu Panggung Keraton mengirim ratusan utusan yang disebar ke seluruh negeri, bahkan juga ke negeri-negeri yang jauh.

Maka tidak berapa lama halaman istana sudah dipenuhi ribuan pemuda dan bahkan pria-pria tua yang ingin mengikuti sayembara. Sayang tidak satupun dari mereka yang bisa memecahkan teka-teki tersebut.

Beberapa hari kemudian banyak raja-raja dari negeri tetangga yang sudah mendengar mengenai kabar kecantikan putri Rarang Purbaratna mulai berdatangan. Namun mereka juga gagal. Salah seorang raja yang juga gagal bernama prabu Gajah Menggala dari kerajaan Kuta Genggelang. Prabu Gajah Manggala sangat kecewa dengan kegagalannya. Dia bersumpah akan menyerang kerajaan Dayeuh Manggung jika suatu hari nanti putri Rarang Purbaratna menemukan jodohnya.

Sementara itu Pangeran Munding Larik dari kerajaan Pakuan Pajajaran yang sudah berhari-hari mengembara di lautan, tanpa sengaja terdampar di kerajaan Dayeuh Manggung. Pangeran Munding Larik adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan gagah. Dia melakukan pengembaraan dalam rangka menambah wawasan dan pengalaman sebelum dia naik tahta menggantikan ayahandanya yang sudah sepuh. Selain itu ibundanya juga berharap pangeran Munding Larik akan menemukan jodoh di perjalanannya itu. Ayahandanya membekali pangeran Munding Larik dengan sebuah gambar bernama Nusa Tiga Puluh Tiga - Bengawan Sewidak Lima, menurutnya di sanalah nanti pangeran Munding Larik akan bertemu jodoh. Pangeran juga dibekali dengan sebuah senjata bernama Senjata Sejuta Malang dan sebilah keris bernama Keris Gagak Karancang.

Pangeran dengan ditemani patihnya memutuskan untuk meneruskan perjalanan lewat daratan. Setelah berjalan jauh akhirnya mereka sampai di sebuah dataran tinggi. Iseng-iseng pangeran membuka gambar yang diberikan ayahnya. Alangkah terkejutnya karena ternyata daerah tersebut sama persis dengan gambar yang dipegangnya. Maka pangeran dan para pengikutnya memutuskan untuk menemui raja negeri tersebut.

Prabu Panggung Keraton dengan senang hati menerima kedatangan Pangeran Munding Larik. Dijelaskannya bahwa negeri tersebut sedang mengadakan sayembara untuk mendapatkan adik semata wayangnya. Pangeran Munding Larik memutuskan untuk ikut sayembara tersebut dan ternyata bisa memecahkan teka-teki sang putri dengan mudah.
"Artinya bahwa setiap ilmu kesejahteraan adalah jalan menuju keselamatan. Itulah yang dinamakan kehampaan sejati. Yang berarti asal yang sejati dan kehidupan yang sejati. Siapa pun yang sudah memahami hal tersebut, maka tentunya akan bertemu dengan kesejahteraan dan keselamatan. Dan itulah yang disebut dengan kesempurnaan sejati," tutur pangeran Munding Larik.

Karena pangeran berhasil menebak arti teka-teki tersebut, maka pangeran Munding Lariklah yang memenangkan sayembara tersebut dan berhak mempersunting putri Rarang Purbaratna. Maka segeralah digelar pesta pernikahan besar-besaran. Seluruh rakyat negeri Dayeuh Mangung menyambut gembira dan ikut berpesta di istana.

Tidak demikian halnya dengan para raja yang gagal mempersunting putri Rarang Purbaratna. Salah satunya prabu Gajah Menggala. Dia berniat melaksanakan sumpahnya untuk mengganggu ketentraman negri Dayeuh Manggung. Dia lalu pergi ke Goa Jotang untuk menemui siluman Jonggrang Kalapitung yang terkenal sakti dan memintanya untuk menculik putri Purbaratna.

Tentu saja itu adalah hal mudah bagi siluman tersebut. Dengan mudah dia menemukan kamar putri Rarang Purbaratna yang saat itu sedang tertidur pulas. Namun begitu melihat kecantikan sang putri, Jonggrang Kalapitung jatuh hati. Alih-alih menculik sang putri untuk dibawa ke tempat prabu Gajah Menggala, Jonggrang Kalapitung malah menyembunyikannya.

Prabu Panggung Keraton sangat marah mengetahui adiknya diculik. Dia mengutus patihnya untuk menemui prabu Gajah Menggala yang diyakini sebagai dalang penculikan adiknya. Namun patihnya malah menemui ajal di tangan prabu Gajah Menggala. Maka prabu Panggung Keraton memutuskan untuk menghadapinya sendiri. Maka berangkatlah ia ke negeri Kuta Genggaleng.

Saat bertemu mereka pun bertarung. Keduanya sama-sama sakti. Berbagai jurus dan ilmu mereka keluarkan. Akhirnya menjelang sore, prabu Gajah menggala yang sudah kelelahan dapat dikalahkan oleh prabu Panggung Keraton. Dengan ketakutan Prabu Gajah Menggala memohon ampun dan berjanji akan mengembalikan putri Rarang Purbaratna. Maka dia pun segera menemui Jonggrang Kalapitung dan membawa kembali putri Rarang Purbaratna ke negerinya.

Namun rupanya Jonggrang Kalapitung yang sudah jatuh hati masih menyimpan rasa sukanya kepada putri Rarang Purbaratna. Maka beberapa bulan kemudian saat sang putri sedang hamil tua, Jonggrang Kalapitung kembali menculiknya. Namun di perjalanan putri Rarang Purbaratna melahirkan bayi kembar, sehingga Jonggrang Kalapitung memutuskan untuk merubah dirinya menjadi ular besar lalu menelan sang putri dan meninggalkan bayi kembarnya di tengah hutan.

Prabu Panggung Keraton yang menyusul menemukan kedua bayi kembar tersebut. Ajaib sekali, meski masih bayi mereka sudah bisa berlari-lari sehingga sang prabu pun maklum bahwa mereka bukan bayi sembarangan. Maka mereka bertiga pun segera mengejar ular besar yang menelan putri Rarang Purbaratna. Setelah melalui perkelahian yang sangat seru, Jonggrang Kalapitung pun tewas tertebas keris pusaka prabu Panggung Keraton.

Akhirnya mereka berhasil mengeluarkan putri Rarang Purbaratna yang ternyata masih hidup dan kembali ke negeri Dayeuh Manggung. Dan mereka pun hidup berbahagia.
Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/dong%20indo/panggung_kraton.html

Nyi Mas Belimbing
Di Posting Oleh : DONLOAD APLIKASI (MUJI)
Kategori : Cerita Rakyat Folk Tales Jawa Barat Mite

Mitos dari Jawa Barat

Suatu pagi di pertapaan Ujung Kulon Banten. Sinar matahari yang cerah di sela dedaunan tidak mampu menyaput mendung di wajah Nyi Mas Belimbing. Sudah seminggu ini Nyi mas terlihat murung. Hal ini membuat Resi Rarata sang ayah bingung. Akhirnya karena penasaran, Resi Rarata pun bertanya:
"Nyi mas, apa yang mengganggu pikiranmu? Kenapa akhir-akhir ini kamu tampak murung. Apakah ayah bisa membantu?"
Nyi mas belimbing hanya mendesah dan menundukkan kepalanya. Tapi setelah sekian lama terdiam, akhirnya Nyi Mas menjawab:
"Ayah, apakah ayah percaya pada mimpi?"
"Ah ternyata mimpi yang mengganggu pikiranmu." kata sang resi, "Tentu saja, kadang-kadang mimpi juga bisa merupakan pertanda. Apakah mimpimu nak?"
"Aku bermimpi bertemu dengan seorang pemuda tampan dan kami jatuh cinta. Dia bernama Sunan Gunung Jati dan berasal dari Cirebon," kata Nyi mas, "Ayah, bolehkah aku pergi menemuinya? Mungkin dia adalah jodoh yang dipilihkan Tuhan untukku?"
Sang resi berpikir sebelum akhirnya berkata:
"Nyi mas, ayah mengerti perasaanmu. Tapi, tidak baik seorang putri pergi menemui laki-laki," kata Resi, "Sabarlah dan berdoalah! Jika dia memang jodohmu, kalian pasti akan dipertemukan."

Rupanya jawaban Resi Rarata tidak sesuai dengan harapan Nyi mas Belimbing. Dia merasa kecewa, karena sang ayah tidak meluluskan keinginannya. Tapi Nyi mas tidak berani membantah kata-kata ayah yang sangat dicintainya itu. Maka dia pun berusaha melupakan impiannya.
Namun semakin berusaha melupakan, semakin kuat pula keinginannya untuk pergi menemui Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Hingga suatu pagi, Nyi mas Belimbing nekat pergi dari pertapaan, meninggalkan sang resi yang masih tertidur lelap.

Sementara itu, kepergian Nyi mas belimbing juga membuat resah Ki Pandan Alam yang sudah lama menaruh hati pada Nyi mas. Dia tidak rela gadis pujaannya menjadi milik orang lain. Maka tanpa berpikir panjang Ki Pandan Alam pun memutuskan untuk menyusul Nyi Mas Belimbing ke Cirebon.
Setelah menempuh setengah perjalanan, akhirnya Ki pandan bisa menyusul Nyi mas Belimbing. Ki pandan mencoba membujuk Nyi Mas Belimbing untuk mengurungkan niatnya yang tentu saja ditolak oleh Nyi Mas Belimbing. Ki Pandan Alam yang marah mulai menggunakan kekerasan untuk memaksa Nyi Mas Belimbing, namun Nyi Mas tetap menolak. Maka pertempuran pun tak terelakkan. Ki Pandan Alam kalah.

Ki Pandan Alam yang malu dan marah atas kekalahannya, mengadu kepada ayahnya, Sang Hyang Tenggulung.
"Ayah, kau harus menolongku untuk membalas kekalahanku ini," pintanya.
"Jangan khawatir, ayah punya jalan keluar untuk meyelesaikan masalahmu," kata sang Hyang.
"Bagaimana caranya ayah?" tanya Ki Pandan Alam.
"Begini. Ayah akan membuatmu tampak seperti Sunan Gunung Jati, sehingga Nyi Mas Belimbing akan mengira bahwa engkau adalah pemuda yang dicarinya," kata Sang Hyang.

Dengan satu kali jentikkan, Ki Pandan Alam pun berubah wujud menjadi Sunan Gunung Jati. Segera Ki pandan alam menyusul Nyi Mas Belimbing yang sudah hampir sampai di Cirebon. Tanpa curiga Nyi Mas Belimbing yang memang sangat ingin bertemu dengan Sunan Gunung Jati, menerima kehadiran Ki Pandan Alam, dan bersedia untuk dinikahinya. Mereka pun tinggal di cirebon untuk beberapa waktu lamanya.
Namun ternyata penyamarannya kemudian terbongkar, maka Ki Pandan Alam pun dihukum untuk menebus kesalahannya. Tinggalah Nyi Mas Belimbing yang kecewa dan sedih karena merasa telah tertipu. Dia malu untuk kembali ke pertapaan, juga takut karena telah melanggar perintah ayahnya. Akhirnya karena rasa malu itu Nyi Mas Belimbing pun mengakhiri hidupnya.

Anehnya, setelah beberapa bulan kemudian, dari kuburannya terdengar suara tangis bayi. Hal itu tentu saja membuat masyarakat yang tinggal di sekitar situ ketakutan. Beberapa dari mereka kemudian melaporkan kejadian itu kepada Sunan Gunung Jati yang segera memerintahkan untuk membongkar kuburan Nyi Mas Belimbing.
Benar saja, ternyata di dalam kuburan itu ada seorang bayi laki-laki mungil. Sunan Gunung Jati menamainya Cikal dan mengangkatnya menjadi putranya.
Konon, setelah besar, Cikal ini sering mengembara dan pernah bertemu dengan Nabi Khaidir. Karena sangat cerdas, maka nabi Khaidir mengangkatnya menjadi murid. Dia ikut mengembara bersama Nabi Khaidir dan tidak pernah kembali ke Cirebon.

Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/dong%20indo/belimbing1.html